Pendidikan anak sehabis berkeluarga

Pendidikan anak sehabis berkeluarga

Pendidikan anak sehabis berkeluarga

Pendidikan anak sehabis berkeluarga
Pendidikan anak sehabis berkeluarga

1. Berdoa sebelum senggama

Doa yang diajarkan oleh Rasulullah saw sebelum senggama adalah:
“Bismillahi Allahumma jannibnas syaithoni wajannibis syaithoni mimmaa rozaqtanaa”
Artinya:
“Bismillah! Ya Allah jauhkanlah syetan dari kami dan jauhkan pula syetan dari anak (yang mungkin) Engkau karuniakan kepada kami”.
Yang sanggup dipahami dari hadis ini ialah bahwa kita berdoa kepada Allah semoga kita tidak terganggu oleh syaitan dan anak yang mungkin akan diamatkan kepada kita, nantinya tidak diganggu oleh syaitan pula, sehingga ia sanggup didik dan berkembang sesuai fitrahnya. Berdoa berarti mendekatkan diri kepada Allah swt, dan meyakini wacana ke Maha Kuasaan-Nya.

2. sehabis konsepsi (dalam kandungan)

Sebahagian jago pendidik beropini bahwa pendidikan dimulai semenjak anak dalam kandungan. Namun mereka mengakui bahwa pendidikan dalam kandungan ini belum berlangsung pendidikan yang sebenarnya, lantaran pendidik dan penerima didik tidak terjadi interaksi berguru mengajar secara langsung, tetapi melalui ibunya atau kedua orang tuanya.
Dalam al-Qur’an terdapat ayat yang sanggup dijadikan dalil bahwa pendidikan sanggup berlangsung didalam rahim ibu, yaitu surat al-A’raf ayat 172 yang artinya:

“Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawaban: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”]

Ayat ini menginformasikan kepada kita bahwa tiruana insan didalam rahim ibu sudah dibaiat oleh Allah swt. dengan akreditasi bertuhan kepada-Nya. Dan tiruana insan yang lahir kedunia ini sudah mengaku bertuhan kepada Allah. Peristiwa ini menjadi indikator bahwa insan dalam rahim itu mengerti dan sanggup memahami makna baiat.

Secara rasional, tidak mungkin Tuhan melaksanakan baiat terhadap orang yang tidak mengerti dan begitu pula insan dalam rahim tidak mungkin sanggup menjawaban sebuah pertanyaan, kalau mereka tidak mengerti makna pertanyaan yang ditujukan kepadanya. (Lihat lebih lanjut Ahmad Tafsir, Pendidikan Islam dalam keluarga, hal 26-28)

Yang menjadi dilema ialah: “Bagaimana cara melaksanakan pendidikan islam terhadap bayi dalam rahim ibu. sepertiyang sudah dikemukakan terlampau, bahwa pendidikan terhadap bayi dalam rahi tidak secara eksklusif tetapi melalui ibunya (orang tua). Karena itu uraian diberikut iniadalah menyangkut cara mendidik anak dalam rahim melalui ibunya (orang tua).

cara mendidik anak yang masih dalam kandungan

adalah sebagai diberikut:

Ayah dan ibu yang sedang mengandung harus berprilaku yang baik dan terpuji, sopan, lembut dalam berbicara, bergaul dengan baik. Kelembutan kesopanan dalam pergaulan antara ayah dan ibu dan terhadap orang lain. Prilaku ibarat ini akan membuat ketentraman dan ketenangan dalam rumah tangga, yang pada alhasil kuat kepada anak dalam kandungan. Ibu dan ayah harus berupaya keras untuk menghindari perbuatan-perbuatan yang buruk seperti: mencela/mengejek, mencuri, berdusta, menipu dan sebagainya. Hal-hal yang ibarat ini sanggup menghipnotis anak dalam kandungan.

Ibu yang sedang hamil harus aktif melaksanakan ibadah,yaitu mendirikan shalat, begitu pula ibadah-ibadah lainnya, ibarat bersedakah,menyantuni anak yang membutuhkan. Apa yang dilakukan oleh si ibu tadi secara otomatis mengikut sertakan anaknya, lantaran tidak mungkin meninggalkan bayinya lantaran ia masih dalam rahim.

Ibu dianjurkan rajin membaca al-Qur’an sebanyak mungkin. Bacaan al-Qur’an akan memdiberi rangsangan aktual kepada sang bayi.
Ibu dianjurkan untuk senantiasa berdoa. melaluiataubersamaini berdoa akan mengakibatkan perasaan bersahabat dengan Tuspesialuntukng akan mengakibatkan rasa damai dan selalu dalam dukungan Tuhan. Berdoa sebaiknya dilakukan setiap selesai shalat, minta kepada Tuhan semoga didiberi anak yang shaleh dan menjadi penyenang hati. (surat al-Furqan ayat 73).

Baca Juga: