Kehancuran dan Kemunduran Kerajaan Syafawi

Kehancuran dan Kemunduran Kerajaan Syafawi

Salah satu penyebab kehancuran kerajaan Syafawi adalah retak dan patahnya pilar-pilar agung penopang kemajuan yang dimiliki kerajaan syafawi pada masa jayanya, sebagaimana yang telah dikemukakan. Pilar-pilar agung tersebut retak satu demi satu dan akhirnya patah sama sekali, sehingga kemunduran yang telah merayapi batang tubuh kerajaan itu bertambah parah hingga membawanya menjadi hancur berantakan.

Sepeninggal Abbas I, kerajaan Syafawi secara berturut-turut diperintah oleh enam raja, yaitu Safi Mirza, Abbas II, Sulaiman, Husain, Tahmasap II dan Abbas III. Pada masa keenam raja tersebut, kondisi kerajaan Syafawi tidak menunjukkan kenaikan dan berkembang, tetapi justru sebaliknya memperlihatkan kemundurannya yang membawa kehancuran.[1]

 Menurut Hodsgon, antara tahun 1629-1694 M, politik pemerintahan banyak dikendalikan oleh para harem istana yang kebanyakannya berasal dari daerah Georgia. Meskipun secara formal dalam periode tersebut telah memerintah tiga orang syah, yaitu Safi Mirza (1629-1642 M), Syah Abbas II (1642-1667 M), dan Syah Sulaeman (1667-1694 M), hanya Syah Abbas II (1642-1667 M) yang memiliki kepribadian seperti Syah Abbas I, sehingga ia dapat menahan laju kemerosotan kerajaanya. Adapun Syah Husen (1694-1722 M) karena kelemahannya, banyak menyerahkan urusannya kepada para ulama Syi’ah yang sangat fanatik, sehingga banyak melakukan kekejaman terhadap rakyat yang beraliran Sunni. Hal ini lah yang menjadi biang keladi timbulnya pemberontakan yang membawa kehancuran kerajaan Syafawi, setelah tegak selama dua abad lebih.

Safi Mirza, cucu Abbas, adalah seorang pemimpin lemah. Ia suka minum-minuman keras dan sering melakukan tindakan-tindakan yang sangat kejam terhadap pembesar-pembesar kerajaan. Akhirnya, kemajuan pernah dicapai oleh Abbas I segera menurun. Kota Qandahar lepas dari kerajaan Syafawi diambil alih oleh kerajaan Mughal ketika kerajaan ini diperintah Syah Jahan. Sementara Baghdad direbut oleh Kerajaan Turki Usmani.

Selanjutnya, Sulaeman memiliki perilaku yang tidak jauh berbeda dengan Safi Mirza. Di samping pemabuk, ia juga banyak bertindak kejam terhadap para pembesar yang dicurigainya. Akibatnya banyak kerajaan di Syafawi bersikap apatis terhadap pemerintah. Ia kemudian digantikan oleh Shah Husein yang banyak memberi kekuasaan besar kepada para ulama Syi’ah yang sering memaksakan pendapatnya terhadap penganut aliran Sunni.[2]

Secara khusus ada tiga faktor yang mempercepat mundur dan hancurnya kerajaan Syafawi.

  1. Adanya pergantian Syah yang tidak konsisten

Sebagai sebuah dinasti, pergantian Syah diturunkan kepada anak atau saudaranya. Namun , Realitas dalam sejarah Syafawi, hal tersebut tidak berlaku. Banyak sekali Syah yang membinasakan keluarganya, termasuk anaknya sendiri karena dianggap membahayakan kelestarian tahtanya. Salah satu contohnya adalah Syah Abbas yang memenjarakan ayah dan dua orang saudaranya di Alamut. Bahkan ia membunuh anaknya yang sulung, hanya karena ia dekat dengan rakyatnya dan curiga jika ia mengadakan pemberontakan. Akibatnya, setelah Syah Abbas meninggal, ia digantikan oleh seorang cucunya yang lemah, yang kemudian bergelar Syah Safi Mirza.

  1. Petualangan para tokoh pemerintah yang oportunis dari golongan qizilbash, gulam, harem dan ulama.

Pada saat-saat tertentu, mereka mendapat kesempatan untuk menentukan roda pemerintahan di bawah syah-syah yang lemah. Namun, mereka tidak melaksanakan amanah itu dengan baik, serta memanfaatkannya secara sewenang-wenang. Akibatnya, timbullah permusuhan antargolongan dalam kerajaan, sehingga kerajaan menjadi lemah. Sebagainya contoh, pada pemerintahan Syah Husein para ulama Syi’ah yang memerintah banyak yang berlaku kejam, yang mengakibat-kan bangkitnya golongan Sunni untuk menumbangkannya.

  1. Menurut loyalitas para pendukung kerajaan kepada kerajaan Syafawi.

Loyalitas Qizilbash bergeser pada suku masing-masing, setelah Syah Ismail meninggal. Munculnya Ghulam yang dibina oleh Syah Abbas telah berhasil menopang kerajaan dengan monoloyalitasnya yang tinggi terhadap Syafawi. Akan tetapi setelah Syah Abbas I meninggal, loyalitas mereka juga menurun dan mulai bergeser kepada asl-usul bangsa mereka sebagai bangsa Georgia. Oleh karena itu, pada masa Syah Husein, ada beberapa pemimpin Georgian yang sangat menentukan politik di ibukota Isfahan, seperti Georgia XI dan Kay Khusraw. Dengan munculnya suatu bangsa dengan tingkat ashabiyah-nya tinggi seperti bangsa Afghan yang berusaha menghancurkan Syafawi, Syafawi tidak dapat dipertahankan lagi, karena ditinggalkan oleh para pendukungnya.

sumber :
https://icanhasmotivation.com/cara-beli-mobil-bekas-online/