Belajar di SMA Dua Tahun Saja

Belajar di SMA Dua Tahun Saja

Belajar di SMA Dua Tahun Saja

Belajar di SMA Dua Tahun Saja
Belajar di SMA Dua Tahun Saja

Belajar di SMA tidak perlu lama. Dua tahun saja, kalau bisa, siswa sudah lulus. Sistem pembelajaran yang digunakan mirip dengan yang ada di bangku kuliah. Yakni, menggunakan sistem kredit semester (SKS). Itu pula yang sekarang diujicobakan di SMAN 2 Surabaya.

Para siswa di SMAN 2 Surabaya yang bisa mengambil SKS tersebut adalah para siswa baru. Tim Koordinator SKS SMAN 2 Hirman Pratikno menjelaskan, SKS itu diterapkan atas petunjuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). ”SMAN 2 menjadi salah satu sekolah rujukan untuk sistem baru ini,” katanya.

Sistem pendidikan SKS merangkum berbagai mata pelajaran dalam satu semester. Pada masa pendidikan awal, semua siswa akan mendapatkan paket SKS. Setelah itu, barulah mereka adu cepat menuntaskan studi.

Dalam sistem tersebut, guru juga menyusun unit kegiatan belajar mandiri (UKBM)

untuk setiap mata pelajaran. UKBM berisi beberapa materi yang harus diselesaikan siswa dalam satu semester. Nah, pada sistem itu, siswa yang mampu menyelesaikan UKBM dalam tempo kurang dari satu semester bisa mengambil SKS semester berikutnya.

Dia mencontohkan mapel sejarah. Dalam satu semester, ada tujuh bab materi yang harus diselesaikan siswa. Namun, jika bisa menyelesaikannya dalam waktu tiga bulan, siswa berhak mengambil SKS lanjutan. Melalui sistem tersebut, siswa yang memiliki kemampuan tinggi bisa menyelesaikan jenjang pendidikan SMA lebih singkat. Yakni, dua tahun.

Dalam sistem itu, pembelajaran akan terbagi menjadi dua bagian. Pertama, siswa belajar secara mandiri. Persentasenya 60 persen. Kedua, tatap muka dengan guru. Komposisinya 40 persen.

Meski bisa menempuh pendidikan lebih singkat, Hirman menerangkan, mekanisme SKS tidak akan menerapkan sistem pemisahaan kelas. Siswa yang dapat menempuh SKS lebih cepat akan tetap membaur dengan siswa lainnya. Mereka tetap belajar di kelas reguler. ”Ini pula yang membedakan SKS dengan kelas akselerasi dulu,” jelas guru sejarah itu.

Penerapan SKS dalam pembelajaran tersebut bertujuan menjembatani kemampuan intelektual siswa. Jika ada siswa yang memiliki intelektual tinggi, dia berhak mendapatkan kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan lebih cepat.

Selain itu, melalui sistem SKS, guru dapat memetakan kemampuan setiap siswa dalam satu kelas. Hasil pemetaan nantinya dapat membantu guru dalam menentukan pendekatan kepada siswa yang bersangkutan.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Saiful Rachman menyatakan,

sekolah dengan sistem SKS merupakan program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dia juga mendukung sekolah-sekolah yang siap untuk menyelenggarakan sistem tersebut. ”Selama ini yang banyak menerapkan sistem SKS di Malang,” katanya.

Menurut dia, sekolah juga harus berinisiatif menyelenggarakan sistem SKS. Mantan kepala Badan Diklat Jatim itu menilai, sistem SKS cukup dinamis. Artinya, sistem tersebut mampu mewadahi siswa-siswa yang ingin menyelesaikan belajar lebih singkat.

Sebelumnya, siswa yang menempuh percepatan studi masuk kelas akselerasi. Namun, kelas itu kini ditiadakan. ”Seperti kuliah, ada paket yang bisa diambil, bergantung kecepatan anak,” tuturnya.

Dia juga mendorong sekolah-sekolah untuk menyelenggarakan sistem SKS.

Terutama bagi sekolah yang siap. Dari berbagai segi. Termasuk sumber daya manusia atau gurunya.

Secara terpisah, Ketua Dewan Pendidikan Jatim Akh. Muzakki menjelaskan, model penerapan mekanisme SKS tersebut harus tetap melihat kondisi sekolah dan siswa. ”Terutama urusan sarana prasarana harus diperhatikan pemerintah,” terangnya.

Kebijakan SKS tersebut juga sebaiknya tidak dilakukan terburu-buru. Pemerintah harus memastikan, sebelum sistem itu diterapkan, ada pemetaan kondisi sekolah. Dengan begitu, sistem tersebut dapat memfasilitasi setiap kebutuhan siswa.

 

Sumber :

https://demotix.com/how-to-prevent-air-and-soil-pollution/