Berbagai Gaya Kepemimpinan

Berbagai Gaya Kepemimpinan

Berbagai Gaya Kepemimpinan

Berbagai Gaya Kepemimpinan
Berbagai Gaya Kepemimpinan

 

Dalam kepustakaan disebutkan ada berbagai cara

dalam mendekati kepemimpinan dan karkteristiknya atau gaya kepemimpinan seseorang yang disebut efektif. Pendekatan teori kepemimpinan tersebut mulai dari teori pendekatan sifat, teori pendekatan perilaku, teori pendekatan situasional, dan teori kemungkinan pengembangan kepemimpinan pada era desentralisasi ini.
Teori pendekatan sifat mencoba menjelaskan keefektipan dan keberhasilan seorang pemimpinan dengan bertolak pada asumsi-asumsi bahwa individu merupakan pusat kepe-mimpinan seseorang. Kepemimpinan dipandang sebagai sesuatu yang mengandung lebih banyak unsur-unsur individu terutama sifat-sifat individu. Jadi orang yang memiliki sifat-sifat tertentu yang dipertimbangkan untuk dapat menduduki posisi pimpinan (Mulyasa. 2002). Sifat-sifat bawaan inilah yang membedakan antara pemimpin dengan bukan pemim-pin. Demikian juga yang dimaksudkan dengan sifat-sifat bawaan tersebut, seperti kekuatan fisik dan susunan syaraf, penghayatan terhadap arah tujuan, antusiasisme, keramahan, integritas, keahlian, kemampuan mengambil keputusan, keterampilan memimpin, dan kepercayaan.

Tampakya sifat-sifat bawaan seseorang

belum mampu memberikan jawaban yang memuaskan, oleh karena itulah para pakar tampaknya mengalihkan perhatiannya pada perilaku pemimpin. Teori pendekatan kepemimpinan ini tampaknnya memfokuskan dan mengidentifikasi perilaku yang khas dari pemimpin dalam melakukan kegiatan mempenga-ruhi bawahannya. Beberapa studi dengan menggunakan teori pendekatan perilaku kepemimpinan ini adalah Universitas OHIO, dengan melihat perilaku inisiatif (initiating structure) dan perhatian (consideration) dari pemimpin, Universitas Michigan dengan melihat perilaku orientasi pada bawahan, dan orientasi pada produksi dalam organisasi, kemudian teori jaringan manajemen oleh Blacke dan Mouton yang melihat perilaku pimpinan dari perhatiannya terhadap produksi dan karyawannya.

Kemudian yang dimaksud dengan pendekatan situasional adalah

suatu pendekatan yang dalam menyoroti perilaku pemimpin dalam situasi tertentu, dengan lebih menekankan kepemimpinan merupakan fungsi daripada sebagai kualitas pribadi yang timbul karena interaksi orang-orang dalam situasi tertentu. Atas dasar pandangan teori pendekatan situasi-onal dikembangkan beberapa gaya kepemimpinan, seperti: kepemimpinan kontingensi oleh Fiedler dan Chemers (Mulyasa. 2002) yang menjelaskan bahwa seseorang akan menjadi pemimpin yang efektif akan sangat tergantung dari hubungan antara pemimpin dengan bawahan artinya bagaimana seorang pemimpin dapat diterima oleh bawahannya serta bagaimana persepsi pemimpin terhadap bawahannya, struktur tugas dalam arti apakah tugas-tugas bawahan merupakan sebagai sesuatu yang rutin dan jelas, dan kekuasaan yang bersumber dari organsasi akan mendapatkan kepatuhan yang lebih besar dari bawahnnya.

Kemudian muncul juga teori dari Reddin

yang dikenal dengan teori kepemimpinan tiga dimensi. Dasar yang digunakan untuk menentukan efektifitas kepemimpinan seseorang adalah perhatian pada produksi dan tugas, perhatian pada bawahan, dan efektifitas (Mulyasa. 2002). Dan salah satu teori kepemimpinan dengan menggunakan pendekatan situasional ini adalah teori yang dikembangkan Hersey dan Blanchard (1982) yang menyatakan bahwa efektifitas kepemimpinan seseoang akan sangat tergantung pada tiga faktor, yaitu: pertama faktor perilaku tugas, yang berupa petunjuk oleh pimpinan, penje-lasan tertertu apa yang harus dilakukan, bilamana dikerjakan, bagaimana mengerjakannya, serta pengawasan yang ketat. Kedua, faktor perilaku hubungan berupa ajakan kepada bawahan melalui komunikasi dari dua arah, yaitu pimpinan dan bawahan.
Kemudian teori kepemimpinan yang bagaimanakah yang dianggap paling efektif pada masa sekarang yang sedang mengalami perubahan dan masa globalisasi. Paling tidak ada tiga jenis kepemimpinan yang dipandang referensentatif dengan tuntutan jaman yang sedang mengalami perubahan khususnya dalam penyelenggaraan sistem pendidikan dengan sistem desentralisasi pada saat ini. Jenis kepemimpinan yang dimaksud adalah kepemim-pinan transsaksional, visioner, dan kepemimpinan transfomasional (Komariah dan Triatna. 2006., Danim. 2005. 2006).
Kepemimpinan transaksional yang dimaksudkan adalah pemimpin yang menekan-kan pada tugas yang diemban oleh bawahan, merancang pekerjaannya, beserta mekanisme-nya, bawahan melaksanakannya sesuai dengan kemampuannya, dan di sisi yang lain bawahan melakukan tugasnya bukan dalam rangka untuk aktualisasi diri, tetapi untuk mendapatkan insentif sesuai dengan beban pekerjaan dan kemampuannya. Dengan kata lain dalam kepemimpinan yang transaksional pimpinan dihadapkan pada bawahan yang masih kurang matang yang ingin memenuhi kebutuhan hidupnya dari sisi sandang, pangan, dan papan. Dengan demikian kepemimpinan transaksional disebut juga dengan dorongan konti-ngen dalam bentuk reward dan punishment yang merupakan kesefakatan bersama dalam kontrak kerja yang apabila bawahan dapat bekerja dengan berhasil baik sesuai dengan harapan, maka juga akan mendapat kontingen berupa imbalan. Dalam kaitan ini Hoover, dan Leitwood (dalam Komariah dan Triatna. 2006) menjelaskan secara skematis gaya kepe-mimpinan transaksional sebagai bagan di bawah ini.