Moto situs Anda bisa diletakkan di sini

Moto situs Anda bisa diletakkan di sini

Kategori: pendidikan

pendidikan

 Reformasi Birokrasi

 Reformasi Birokrasi

Dalam berbagai kesempatan, untuk berbagai tujuan, istilah reformasi sering dilabelkan pada setiap usaha yang dimaksudkan untuk melakukan perbaikan secara gradual, bertahap dan berlangsung di sistem yang ada. Reformasi itu juga dipersamakan dengan sebuah perubahan dan perbaikan atau sesuatu yang berkonotasi positif, meskipun pada kenyataannya ia hanya jargon politis atau sesuatu yang hanya lip service. Begitupun ketika pemerintah melakukan sejumlah perbaikan tata kelola (governance) atau manajemen pemerintahan, maka upaya itu dengan serta merta dinyatakan sebagai reformasi birokrasi.

Reformasi atau apa pun namanya jika ia merujuk pada sebuah perubahan ke arah perbaikan, maka ia sesungguhnya bukan sesuatu yang hanya dilakukan untuk saat atau oleh kondisi tertentu. Mengacu pada istilah Michel Beer (2000:452) yang menyatakan berubah itu adalah memilih tindakan yang berbeda dari sebelumnya, perbedaan itulah yang menghasilkan suatu perubahan.

Jika reformasi itu dimaknai sebagai buah dari sebuah perubahan, maka buah yang dihasilkan dari proses perubahan yang kemudian disebut reformasi itu masih jauh dari apa yang diharapkan sebagaimana ketentuan normatif atau teoritisnya. Sejumlah kajian teoritis mengenai reformasi birokrasi di Indonesia menunjukan bahwa proses reformasi atau perubahan dan perbaikan organisasi birokrasi itu belum cukup menggembirakan. Berbagai telaah dan kajian teoritis empiris menunjukkan bahwa proses reformasi birokrasi di Indonesia memerlukan kajian lebih mendalam untuk memperoleh landasan teoritis ilmiah dan strategis yang tepat dalam rangka implementasi proses birokrasi. Padahal menurut Mustopadidjaja (2000), jika proses reformasi birokrasi bisa dijalankan dengan baik, maka akan terwujudlah good governance di dalam birokrasi di Indonesia yang selanjutnya bisa dijadikan alat untuk melakukan pembangunan masyarakat madani. Soebhan (2000) menyatakan bahwa agar proses reformasi birokrasi di Indonesia bisa berjalan secara optimal, maka model keterkaitan birokrasi dengan politik harus dipisahkan dengan jelas dan tegas.

   Jenis-jenis evaluasi pembelajaran

Macam-Macam Pengeluaran Negara

Sistem pertandingan Tenis Meja

pendidikan

Tentang Telematika

Tentang Telematika

Tentang Telematika

Kalau kita berbicara tentang telematika, maka yang terlintas di benak biasanya adalah GPS dan Handphone. Sebenarnya hal-hal tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak contoh penggunaan telematika dalam kehidupan. Telematika merupakan teknologi komunikasi, media dan informatika menurut Kerangka Kebijakan Pengembangan dan Pendayagunaan Telematika di Indonesia.

Pertama kali istilah telematika diciptakan tahun 1978 oleh Simon Nora dan Alain Minc dalam laporan mereka yang berjudul L’Informatisation de la société. Lalu laporan tersebut diberi mandat oleh presiden Perancis yang berpikir bahwa nantinya telematika ini akan dapat merubah organisasi ekonomi dan sosial, dan bahkan cara hidup kita.

Maka dimulailah pengembangan mikroprosesor yang akan menggantikan mainframe dan mini komputer. Alasannya adalah karena mainframe membutuhkan ruang dan juga energi yang besar. Sedangkan untuk mini komputer, walau lebih kecil dari mainframe, namun penggunaannya masih belum dapat digunakan untuk keperluan pribadi. Dan pada saat tersebut, komputer-komputer ini masih belum dapat terhubung antara yang satu dengan yang lain. Saat komputer semakin dikenal dan didistribusikan pada masyarakat, maka kebutuhan akan pertukaran data pun tumbuh, dan teknologi untuk menghubungkan komputer yang satu dengan yang lain muncul. Hal ini dapat dikatakan sebagai lahirnya telematika.

Pada masa sekarang, kita tidak perlu khawatir tentang seberapa besar listrik yang dibutuhkan seperti dulu, karena listrik yang dibutuhkan pun relatif kecil dan sekarang untuk mendapatkan listrik pun mudah. Kehidupan saat ini pun telah banyak menggunakan telematika. Sebagai contoh adalah mesin ATM, pemesanan tiket secara online, ataupun pencarian data secara online. Dari hal-hal itu, maka dapat dikatakan bahwa internetlah perkembangan telematika terbesar.

Dan perkembangan yang sedang dilakukan saat ini adalah komputer yang lebih kecil lagi dan hemat energi, serta terjangkau oleh masyarakat luas, seperti halnya komputer mobile dan komputer saku yang dapat menemani kita dimanapun kita berada. Teknologi telekomunikasi yang tertanam dalam perangkat mobile memungkinkan kita mengakses internet ataupun terhubung dengan perangkat lain dan dengan pengguna yang berbeda-beda. Hal ini mengarahkan kita ke bidang yang baru dari aplikasi telematika yang kadang disebut juga dengan Mobile Computing.


Baca Juga :

pendidikan

Kiat Menghadapi Stres

Kiat Menghadapi Stres

Kiat Menghadapi Stres
Kiat Menghadapi Stres

Masalah pekerjaan, keluarga, maupun masalah pribadi yang menumpuk tanpa disadari dapat menyebabkan efek jangka panjang pada tubuh dan jiwa seseorang. Keadaan itulah yang sering disebut sebagai stres.

Perasaan stres sering kali menjadi musuh dalam selimut. Perasaan tersebut dapat datang dengan tiba-tiba dan biasanya cukup sulit untuk dikendalikan. Stres dapat memicu timbulnya berbagai penyakit di kemudian hari. Salah satunya adalah penyakit jantung, hipertensi, dan stroke.

Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, ada baiknya kita menghindari stres dengan cara sebagai berikut:

1. Energi positif
Keluarkan energi positif di dalam diri kita dengan selalu berpikiran optimis dalam menghadapi setiap permasalahan. Sadarilah bahwa dalam setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya. Sebaiknya jangan bersikap terlalu keras pada diri sendiri karena setiap rencana yang telah kita buat belum tentu dapat tercapai. Bersikaplah lebih fleksibel sehingga kita dapat lebih menikmati indahnya hidup.

2. Menjaga kesehatan
Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Jagalah kesehatan tubuh kita dengan olah raga yang teratur, tidur yang cukup, dan konsumsi makanan yang bergizi. Olah tubuh dapat merangsang keluarnya endorphine, yaitu zat yang membuat tubuh merasa nyaman, sehingga orang yang berolahraga teratur biasanya tampak sehat dan bahagia. Olah raga teratur sebaiknya didukung juga dengan pola makan yang sehat dan istirahat yang baik.

3. Kendalikan emosi
Cara termudah untuk mengendalikan emosi adalah dengan minum air putih yang banyak saat emosi mulai memuncak. Air putih dapat menenangkan emosi dan membantu kita untuk berpikir lebih jernih. Emosi yang berlebihan justru dapat menjadi memicu terjadinya stres. Bersikaplah lebih sabar dan berpikir lebih luas agar dapat memahami setiap masalah dengan jernih.

4. Istirahat sejenak
Luangkan sedikit waktu untuk beristirahat. Gunakanlah akhir pekan dengan baik, khususnya untuk memanjakan diri dan keluar dari rutinitas sehari-hari. Berkumpul bersama keluarga atau teman-teman merupakan salah satu cara untuk menumbuhkan energi positif serta semangat baru.

5. Terbuka
Jangan pendam masalah kita sendirian. Seperti ada pepatah yang mengatakan, that’s what friends are for. Dengan berbagi cerita kepada orang yang kita percaya, maka beban kita akan terasa lebih ringan dan tidak mengendap di dalam pikiran.

6. Tingkatkan rasa humor

Secara klinis, humor dapat digunakan untuk mengatasi rasa stres. Di Indonesia, sekarang ini sudah banyak tersedia terapi tertawa yang biasanya dilakukan oleh sekelompok orang minimal 5 orang, selama 5 sampai 10 menit. Humor memang perlu dilakukan agar syaraf tidak terlalu tegang dan tubuh dapat berelaksasi.


Sumber: https://rajasatour.id/fort-boyard-run-apk/

pendidikan

Arsitektur Client-Server Telematika

Arsitektur Client-Server Telematika

Arsitektur Client-Server Telematika
Arsitektur Client-Server Telematika

Arsitektur Client Side
Merujuk pada pelaksanaan data pada browser sisi koneksi HTTP. JavaScript adalah sebuah contoh dari sisi eksekusi client dan contoh dari sisi penyimpanan pada client adalah cookie.

Karakteristik :
– Memulai terlebih dahulu permintaan ke server.
– Menunggu dan menerima balasan.
– Terhubung ke sejumlah kecil server pada waktu tertentu.
– Berinteraksi langsung dengan pengguna akhir, dengan menggunakan GUI.

Arsitektur Server Side
Pada server side, ada sebuah server Web khusus yang bertugas mengeksekusi perintah dengan menggunakan standar metode HTTP. Misalnya penggunaan CGI script pada sisi server yang mempunyai tag khusus yang tertanam di halaman HTML. Tag ini memicu terjadinya perintah untuk mengeksekusi.

Karakteristik :
– Menunggu permintaan dari salah satu client.
– Melayani permintaan klien dan menjawab sesuai data yang diminta oleh client.
– Suatu server dapat berkomunikasi dengan server lain untuk melayani permintaan client.
– Jenis-jenisnya : web server, FTP server, database server, E-mail server, file server, print server.

Secara umum Arsitektur Client-Server merupakan sebuah aplikasi terdistribusi yang bertugas untuk mempartisi atau membagi pekerjaan antara server(penyedia layanan) dan client. Client dan server sering juga beroperasi menggunakan jaringan komputer pada hardware yang terpisah. Server adalah sebuah mesin yang memiliki performa tinggi dan menjalankan satu atau lebih program untuk memberikan data-data pada client. Sebuah client tidak mempunyai sumber daya apapun, namun meminta server untuk menyediakan sumber daya yang diperlukan. Oleh karena itu clientlah yang terlebih dahulu memulai sesi komunikasi dengan server yang menunggu request dari clientnya.

Dalam perkembangannya, client dan server dikembangkan oleh berbagai perusahaan software besar seperti Lotus, Microsoft, Novell, Baan, Informix, Oracle, PeopleSoft, SAP, Sun, dan Sybase. Perusahaan-perusahaan ini adalah superstar pada era pertama dimunculkannya konsep client dan server. Saat ini perusahaan-perusahaan tersebut telah menjadi perusahaan komputer yang stabil dan besar.


Sumber: https://ppidkabbekasi.id/guardian-soul-apk/

pendidikan

Instrumen Supervisi Akademik

Instrumen Supervisi Akademik

Instrumen Supervisi Akademik

Tugas pengawas sekolah

diantaranya melaksanakan pembinaan dan penilaian teknik dan administratif pendidikan terhadap sekolah yang menjadi tanggungjawabnya. Tugas ini dilakukan melalui pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, dan tindak lanjut hasil pengawasan. Supervisi oleh pengawas sekolah meliputi supervisi akademik yang berhubungan dengan aspek pelaksanaan proses pembelajaran, dan supervisi manajerial yang berhubungan dengan aspek pengelolaan dan administrasi sekolah.

Supervisi akademik dapat dilakukan oleh pengawas, kepala sekolah, dan guru yang ditugasi oleh kepala sekolah untuk melakukan tugas sebagai penyelia. Untuk membantu para penyelia melaksanakan supervisi akademik yang terprogram, terarah, dan berkesinambungan, APSI Pusat telah mengembangkan Instrumen Supervisi (IS) Akademik. Format IS Akademik ini meliputi tiga bagian yang digunakan sebelum pengamatan (Pra observasi), selama pengamatan (Observasi) dan setelah pengamatan pembelajaran (Pasca observasi).

Dengan mengacu Instrumen Supervisi (IS) Akademik ini diiharapkan penyelia dapat melaksanakan supervisi akademik secara klinis melalui pendekatan kemitraan (collegial) dengan siklus perencanaan yang sistematis, pengamatan yang cermat, dan umpan balik yang objektif dan segera, untuk memberikan bantuan teknis kepada guru dalam melaksanakan pembelajaran yang efektif, efisien dan berkualitas.

pendidikan

Instrumen Penyelenggaraan BK

Instrumen Penyelenggaraan BK

Instrumen Penyelenggaraan BK

Untuk mengetahui sejauhmana

penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling  (BK) di sekolah harus dilakukan penilaian (evaluasi) dan untuk menjaring data yang dibutuhkan  tentunya  diperlukan instrumen tertentu.  Dalam hal ini, saya mencoba mengembangkan sebuah instrumen, yang didalamnya berusaha menjaring data penyelenggaraan BK di sekolah secara menyeluruh,  mencakup aspek pengorganisasian  dan substansi pelayanan BK di SMP, SMA dan SMK. Instrumen ini diberi judul “Instrumen Penilaian Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Instrumen ini bisa digunakan oleh para pengawas BK dalam rangka menilai penyelenggaraan BK di sekolah-sekolah yang menjadi binaannya dan juga bisa digunakan oleh kepala sekolah dan guru BK di sekolah masing-masing untuk kepentingan evaluasi diri.

Instrumen ini masih bersifat “trial” dan masih membutuhkan validasi lebih lanjut. Bagi Anda yang berminat menggunakan instrumen ini, silahkan dipelajari dan dimungkinkan untuk dimodifikasi sesuai kondisi dan perkembangan BK saat ini. Saya berharap Anda bisa memberikan feedback  atas instrumen yang saya kembangkan ini  melalui forum blog ini, sehingga instrumen ini benar-benar dapat menjadi sebuah instrumen yang handal dan valid.

pendidikan

memori sensorik

memori sensorik

memori sensorik

Sensory memori kira-kira sesuai dengan awal 200-500 milidetik setelah item dirasakan. Kemampuan untuk melihat item, dan ingatlah apa yang tampak seperti hanya dengan kedua observasi, atau menghafal, adalah contoh dari memori sensorik. Dengan presentasi yang sangat singkat, peserta sering melaporkan bahwa mereka tampaknya “melihat” lebih dari mereka benar-benar dapat melaporkan. Percobaan pertama menjelajahi bentuk memori sensorik dilakukan oleh George Sperling (1960) menggunakan “paradigma laporan parsial”.Subyek disajikan dengan grid 12 huruf, disusun menjadi tiga baris empat. Setelah presentasi singkat, subyek kemudian dimainkan baik nada tinggi, sedang atau rendah, cuing mereka yang baris yang laporan. Berdasarkan laporan percobaan ini parsial, Sperling mampu menunjukkan bahwa kapasitas memori sensori adalah sekitar 12 item, tetapi itu rusak sangat cepat (dalam beberapa ratus milidetik). Karena bentuk merendahkan memori begitu cepat, peserta akan melihat layar, tetapi tidak mampu untuk melaporkan semua item (12 dalam prosedur “seluruh laporan”) sebelum mereka membusuk. Memori jenis ini tidak dapat diperpanjang melalui latihan.

Jangka Pendek

memori jangka pendek memungkinkan mengingat selama beberapa detik sampai satu menit tanpa latihan. Kapasitasnya juga sangat terbatas: George A. Miller (1956), ketika bekerja di Bell Laboratories, percobaan yang dilakukan menunjukkan bahwa toko dari memori jangka pendek adalah 7 ± 2 item (judul kertas yang terkenal, (” Jumlah ajaib 7 ± 2 “). Modern perkiraan kapasitas memori jangka panjang lebih rendah, biasanya di urutan 4-5 item, Namun, kapasitas memori dapat ditingkatkan melalui proses yang disebut chunking. Sebagai contoh, dalam mengingat sepuluh digit nomor telepon, seseorang bisa bongkahan angka menjadi tiga kelompok: pertama, kode area (seperti 215), maka potongan tiga digit (123) dan terakhir sebuah chunk empat digit (4567). Metode ini mengingat nomor telepon jauh lebih efektif daripada mencoba untuk mengingat string dari 10 digit, adalah karena kita dapat chunk informasi menjadi bermakna kelompok angka. Ini Herbert Simon menunjukkan bahwa ukuran ideal untuk chunking huruf dan angka, yang berarti atau tidak, tiga. Hal ini dapat tercermin dalam beberapa negara dalam kecenderungan untuk mengingat nomor telepon sebagai beberapa potongan tiga angka dengan kelompok terakhir empat nomor, umumnya dipecah menjadi dua kelompok dua.

memori jangka pendek diyakini mengandalkan sebagian besar pada kode akustik untuk menyimpan informasi, dan untuk tingkat yang lebih rendah kode visual. Conrad (1964) menemukan bahwa subjek tes mengalami kesulitan lebih mengingat koleksi kata-kata yang akustik sama (misalnya, anjing babi, kabut, rawa, log).

Namun, beberapa individu telah dilaporkan untuk dapat mengingat sejumlah besar informasi, cepat, dan dapat mengingat informasi yang dalam hitungan detik


Sumber: http://e-journal.unipma.ac.id/index.php/JPAUD/comment/view/516/0/129268

pendidikan

Demokrasi Terpimpin (1959 – 1965)

Demokrasi Terpimpin (1959 – 1965)

  • Sistem politik Demokrasi Terpimpin

Kekacauan terus menerus dalam kesatuan negara Republik Indonesia yang disebabkan oleh begitu banyaknya pertentangan terjadi dalam sistem kenegaraan ketika diberlakukannya sistem demokrasi liberal. Pergantian dan berbagai respon dari dari daerah dalam kurun waktu tersebut memaksa untuk dilakukannya revisi terhadap sistem pemerintahan. Ir.Soekarno selaku presiden memperkenalkan konsep kepemimpinan baru yang dinamakan demokrasi terpimpin. Tonggak bersejarah di berlakukannya sistem demokrasi terpimpin adalah dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Peristiwa tersebut mengubah tatanan kenegaraan yang telah terbentuk sebelumya. Satu hal pokok yang membedakan antara sistem Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin adalah kekuasaan Presiden. Dalam Demokrasi Liberal, parlemen memiliki kewenangan yang terbesar terhadap pemerintahan dan pengambilan keputusan negara. Sebaliknya, dalam sistem Demokrasi Terpimpin presiden memiliki kekuasaan hampir seluruh bidang pemerintahan.

Dengan diberlakukannya Dekrit Presiden 1959 terjadi pergantian kabinet dari Kabinet Karya (pimpinan Ir.Djuanda) yang dibubarkan pada 10 juli 1959 dan digantikan dengan pembentukan Kabinet Kerja yang dipimpin oleh Ir.Soekarno sebagai perdana menteri dan Ir.Djuanda sebagai menteri pertama. Kabinet ini  yang memiliki program khusus yang berhubungan dengan masalah keamanan,sandang pangan, dan pembebasan Irian Barat. Pergantian institusi pemerintahan anatara lain di MPR (pembentukan MPRS), pemebntukan DPR-GR dan pembentukan DPA.

Perkembangan dalam sistem pemerintahan selanjutnya adalah pernetapan GBHN pertama. Pidato Presiden pada acara upacara bendera tanggal 17 agustus 1959 berjudu”Penemuan Kembali Revolusi Kita”dinamakan Manifestasi Politik Republik Indonesia(Manipol),yang berintikan USDEK (UUD 1945,Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Kepribadian Indonesia). Institusi negara selanjutnya adalah mengitegrasikan sejumlah badan eksekutif seperti MPRS, DPRS, DPA, Depernas, dan Front Nasional dengan tugas sebgai menteri dan ikut serta dalam sidang-sidang kabinet tertentu yang selanjutnya ikut merumuskan kebijaksanaan pemerintahan dalam lembaga masing-masing.

Dalam Demokrasi Terpimpin presiden mendapat dukungan dari tiga kekuatan besar yaitu Nasionalis, Agama dan Komunis. Ketiganya menjadi kekuatan presiden dalam mempertahankan kekuasaannya. Kekuasaan mutlak presiden pada masa itu telah menjadikan jabatan tersebut sebagai pusat legitimasi yang penting bagi lainnya. Presiden sebagai penentu kebijakan utama terhadap masalah-masalah dalam negeri maupun luar negeri .

baca juga :

pendidikan

Kapitalisasi Biaya

Kapitalisasi Biaya

Kapitalisasi Biaya

Kapitalisasi biaya merupakan isu yang menarik, karena secara praktis, kapitalisasi akan menunda pembebanan biaya ke laba rugi dan berdampak pada laba yang lebih tinggi dalam suatu periode pelaporan. Walaupun, ada risiko pengakuan beban yang tinggi pada suatu periode di masa mendatang, jika kapitalisasi dilakukan tidak secara hati-hati.

Isu Kapitalisasi ini juga sering memunculkan pertanyaan, sampai sejauh mana suatu biaya dapat dikapitalisasi. Sebagai contoh, kegiatan feasibility study sebelum dapat diputuskan suatu kegiatan investasiatau pelatihan untuk pekerja yang diperlukan agar pekerja mampu membangun suatu aset, atau biaya pembongkaran aset untuk membongkar aset di akhir masa manfaatnya.

Rupanya, ketika saya melakukan googling, pertanyaan semacam ini cukup banyak muncul, dan cukup banyak diskusi yang mencoba menjawab pertanyaan semacam ini. Diskusi-diskusi yang saya baca tersebut lebih bersifat opini profesional dan tidak didasari dengan landasan teori atau referensi. Oleh karena itu, kali ini saya akan mencoba mengulas mengenai landasan teori dan prinsip akuntansi yang dapat digunakan untuk menentukan apakah suatu biaya dapat dikapitalisasi.

Saya merangkum 3 hal yang dapat digunakan untuk menentukan apakah suatu biaya dapat dikapitalisasi (mengacu ke PSAK 16, Kerangka Konseptual Penyajian dan Penyusunan Laporan Keuangan), yaitu:

  1. Definisi Aset Tetap
    • Digunakan lebih dari 1 periode
    • Dikuasai (dikendalikan) untuk menghasilkan manfaat ekonomi
  2. Komponen Biaya Aset Tetap
    • Harga perolehan
    • Seluruh biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset ke lokasi dan kondisi yang diinginkan
  3. Syarat Kapitalisasi Biaya
    • Menghasilkan kemungkinan besar manfaat ekonomik masa depan yang akan mengalir ke entitas
    • Dapat diukur dengan andal

Menggunakan ketiga hal di atas, mari kita coba mengevaluasi apakah biaya berikut dapat dikapitalisasi:

Contoh Kasus 1: Biaya Pelatihan

Konteks dan situasi biaya pelatihan adalah sebagai berikut, untuk membangun suatu stasiun angkasa luar, diperlukan pelatihan khusus untuk pegawai NASA. Tanpa pelatihan khusus ini, para pegawai tidak akan memiliki kemampuan untuk membangun stasiun angkasa luar. Apakah biaya pelatihan tersebut dapat dikapitalisasi?

Dalam menjawab permasalahan, terkadang kita terjebak pada penjelasan atas komponen biaya aset tetap yang disebutkan dalam PSAK 16, yaitu seluruh biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset ke lokasi dan kondisi yang diinginkan. Argumen yang terbentuk biasanya, tanpa adanya pelatihan, maka aset tidak dapat dibangun karena pegawai NASA tidak memiliki kemampuan untuk membangun asetnya.

Argumen tersebut walaupun terlihat seakan-akan benar, namun menyesatkan baik secara kejadian ekonomik maupun secara prinsip akuntansi.

  • Biaya training merupakan biaya yang diperlukan untuk membuat manusia siap untuk menggunakan aset/siap membangun aset, bukan sebaliknya. Sehingga, walaupun seakan-akan tanpa biaya ini manusia tidak dapat membangun aset, biaya ini tidak teratribusi secara langsung ke aset. Berbeda dengan Employee benefit pegawai yang membangun aset. Employee benefit merupakan biaya yang teratribusi langsung, karena employee benefit merupakan kompensasi atas pekerjaan membangun aset. Pekerja yang telah di-training (memiliki skillyang dibutuhkan atau pekerja yang sudah siap), secara logika akan mendapatkan employee benefit yang sesuai dengan kebutuhan untuk membangun aset. Sehingga, employee benefitinilah yang teratribusi langsung ke pembangunan aset. Sementara itu, pelatihan tidak secara langsung teratribusi ke aset, karena pelatihan menyiapkan manusia untuk membangun aset, bukan menyiapkan asetnya. (Catatan: employee benefit mengacu ke PSAK 16 dan PSAK 24. Biaya pelatihan bukan merupakan employee benefit).
  • Biaya pelatihan meningkatkan manfaat ekonomik pegawai (dalam bentuk peningkatan skill/knowledge). Pegawai adalah manusia, dan manusia bukan aset karena tidak memenuhi definisi dikuasai/dikendalikan oleh entitas. Manusia memiliki kebebasan untuk resign atau pindah pekerjaan. Sehingga, karena manfaat ekonomik masa depan dari pelatihan melekat ke manusia, maka manfaat ekonomik pelatihan tidak dikuasai perusahaan dan tidak dapat dikapitalisasi.

Contoh Kasus 2: Biaya Evaluasi Lokasi dan Studi Proyek

Biaya evaluasi lokasi dan studi proyek seakan-akan merupakan biaya yang diperlukan untuk membuat aset. Namun, biaya evaluasi lokasi dan studi proyek tidak semuanya dapat dikapitalisasi. Jika evaluasi lokasi sifatnya memilih lokasi untuk pembangunan, dan aset belum pasti akan dibangun di lokasi yang dievaluasi, maka biaya ini seharusnya dibebankan. Sementara itu, jika biaya evaluasi lokasi sifatnya mengevaluasi lokasi untuk menentukan kekuatan fondasi, kekuatan bangunan, penentuan alat tertentu untuk membangun, dan aset sudah pasti akan dibangun di lokasi, maka biaya ini dapat dikapitalisasi, karena biaya ini sudah dapat diatribusikan langsung ke pembangunan aset.

Studi proyek jika sifatnya menentukan kelayakan proyek, misalnya apakah aset layak dibangun, akan menghasilkan return yang diinginkan, maka biaya semacam ini seharusnya dibebankan, karena manfaat ekonomik kegiatan ini tidak melekat langsung ke aset dan kegiatan studi ini tidak secara langsung teratribusikan ke proyek pembangunan aset. Namun, jika studi proyek misalnya sudah berupa menentukan konstruksi bangunan yang sudah atau akan segera dibangun, maka studi ini dapat dikapitalisasi karena dapat diatribusikan secara langsung ke aset yang dibangun.

 

Dari kedua contoh di atas, dapat dilihat bahwa penentuan apakah suatu biaya dapat dikapitalisasi bukanlah hal yang sulit. Namun, terkadang argumen dibentuk untuk menjustifikasi kapitalisasi biaya, atau entitas sendiri terjebak dalam suatu argumen yang kurang tepat untuk mengkapitalisasi biaya. Dalam situasi semacam ini, entitas harus memperhatikan dampak dari pembuatan kebijakan kapitalisasi biaya. Dalam jangka pendek, kapitalisasi akan mengurangi pembebanan biaya di laba rugi. Namun, dalam periode mendatang yang penuh ketidakpastian, entitas memiliki kemungkinan untuk membebankan biaya yang tadinya dikapitalisasi secara sekaligus. Sebagai contoh jika terjadi penurunan nilai atau jika aset yang selesai dibangun tidak lagi memiliki kemungkinan besar manfaat ekonomik yang akan mengalir.


Baca Juga :

pendidikan

Model Pengembangan Standar Profesi

Model Pengembangan Standar Profesi

Model Pengembangan Standar Profesi

Model dan standar profesi di setiap negara berbeda-beda termasuk model dan standar profesi di Amerika dan Eropa. Untuk mengetahui perbedaan antara keduanya, maka berikut ini akan dijelaskan mengenai model dan standar profesi baik di Amerika maupun di Eropa.

Model Pengembangan Standar Profesi

  • Organisasi profesi merupakan organisasi yang anggotanya adalah para praktisi yang menetapkan diri mereka sebagai profesi dan bergabung bersama untuk melaksanakan fungsi-fungsi sosial yang tidak dapat mereka laksanakan dalam kapasitas mereka sebagai individu.
  • Semakin luasnya penerapan Teknologi Informasi di berbagai bidang, telah membuka peluang yang besar bagi para tenaga profesional Tl untuk bekerja di perusahaan, instansi pemerintah atau dunia pendidikan di era globalisasi ini.
  • Secara global, baik di negara maju maupun negara berkembang, telah terjadi kekurangan tenaga professional Tl.

Menurut hasil studi yang diluncurkan pada April 2001 oleh ITAA (Information Technology Association of America) dan European Information Technology Observatory, di Amerika pada tahun 2001 terbuka kesempatan 900.000 pekerjaan di bidang Tl.

Standar Profesi di Amerika dan Eropa

Satu hal penting mengapa profesi pustakawan dihargai di Amerika adalah bahwa dari sejarahnya, perkembangan profesi pustakawan di Amerika Serikat sejalan dengan sejarah pembentukan Amerika Serikat sebagai negara modern dan juga perkembangan dunia akademik. Pada masa kolonial, tradisi kepustakawanan di dunia akademik merupakan bagian dari konsep negara modern, utamanya berkaitan dengan fungsi negara untuk menyediakan dan menyimpan informasi. Oleh karena itu, profesi purstakawan dan ahli pengarsipan mulai berkembang pada masa itu.

Sejalan dengan itu, posisi pustakawan mengakar kuat di universitas-universitas dan tuntutan profesionalitas pustakawan pun meningkat. Untuk menjadi seorang pustakawan, Seseorang harus mendapatkan gelar pada jenjang S1 pada area tertentu terlebih dahulu untuk bisa melanjutkan ke jenjang S2 di bidang perpustakaan. Khusus untuk pustakawan hukum, beberapa sekolah perpustakaan memiliki jurusan khusus pustakawan hukum.

Untuk memastikan hal ini, dibentuklah panduan profesi pustakawan yang memastikan seorang pustakawan harus memiliki gelar profesional pustakawan. Selain harus memiliki sertifikat, para pustakawan profesional ini pun juga terus mengembangkan pendidikan profesinya dengan mengikuti pelatihan-pelatihan di area tertentu yang berkaitan dengan pengolahan dokumen. Hal ini penting untuk menghadapi perkembangan dunia elektronik yang juga berpengaruh terhadap kebutuhan pengguna dan proses pengolahan.

Sementara itu, pekerjaan-pekerjaan teknis yang berkaitan dengan manajemen dan pengelolaan perpustakaan seperti scanning dokumen, jaringan internet, memasang sistem katalog dalam jaringan komputer, dikerjakan ahli‐ahli yang berfungsi sebagai staf teknis perpustakaan. Umumnya mereka memiliki latar belakang pendidikan di bidang Teknologi Informasi. Mereka staf teknis dan bukan pustakawan.

Hal ini tentu berbeda dengan kondisi di Indonesia. Profesi pustakawan seringkali ditempatkan hanya sebagai pekerjaan teknis, tukang mengolah katalog, mencari dan mengembalikan buku perpustakaan ditempatnya, serta memfotokopi dokumen yang dibutukan pengguna. Tidak ada pembagian fungsi dan tugas yang tegas antara pustakawan dan staf teknis.

Contoh lainnya adalah hubungan profesi pustakawan dengan profesi ahli bahasa. Pustakawan di Amerika Serikat bekerjasama dengan The Modern Language Association menyusun panduan yang berkaitan dengan informasi linguistik yang berisi materi‐materi, metode‐metode dan bahkan hal‐hal mengenai etika yang berkaitan dengan linguistik. Banyak pustakawan hukum di Amerika Serikat yang juga memiliki gelar hukum dan aktif melakukan penelitian dan kontribusi lainnya terhadap profesi hukum. Sehingga, pustakawan tidak berfungsi sekedar sebagai supervisi dan kolektor dokumen saja. Selain itu, hubungan antar pustakawan dengan profesi yang didukungnya, misalnya dalam dunia akademik, menjadi setara.


Sumber: https://apartmani-rada.com/2020/06/16/seva-mobil-bekas/