Kapitalisasi Biaya

Kapitalisasi Biaya

Kapitalisasi Biaya

Kapitalisasi biaya merupakan isu yang menarik, karena secara praktis, kapitalisasi akan menunda pembebanan biaya ke laba rugi dan berdampak pada laba yang lebih tinggi dalam suatu periode pelaporan. Walaupun, ada risiko pengakuan beban yang tinggi pada suatu periode di masa mendatang, jika kapitalisasi dilakukan tidak secara hati-hati.

Isu Kapitalisasi ini juga sering memunculkan pertanyaan, sampai sejauh mana suatu biaya dapat dikapitalisasi. Sebagai contoh, kegiatan feasibility study sebelum dapat diputuskan suatu kegiatan investasiatau pelatihan untuk pekerja yang diperlukan agar pekerja mampu membangun suatu aset, atau biaya pembongkaran aset untuk membongkar aset di akhir masa manfaatnya.

Rupanya, ketika saya melakukan googling, pertanyaan semacam ini cukup banyak muncul, dan cukup banyak diskusi yang mencoba menjawab pertanyaan semacam ini. Diskusi-diskusi yang saya baca tersebut lebih bersifat opini profesional dan tidak didasari dengan landasan teori atau referensi. Oleh karena itu, kali ini saya akan mencoba mengulas mengenai landasan teori dan prinsip akuntansi yang dapat digunakan untuk menentukan apakah suatu biaya dapat dikapitalisasi.

Saya merangkum 3 hal yang dapat digunakan untuk menentukan apakah suatu biaya dapat dikapitalisasi (mengacu ke PSAK 16, Kerangka Konseptual Penyajian dan Penyusunan Laporan Keuangan), yaitu:

  1. Definisi Aset Tetap
    • Digunakan lebih dari 1 periode
    • Dikuasai (dikendalikan) untuk menghasilkan manfaat ekonomi
  2. Komponen Biaya Aset Tetap
    • Harga perolehan
    • Seluruh biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset ke lokasi dan kondisi yang diinginkan
  3. Syarat Kapitalisasi Biaya
    • Menghasilkan kemungkinan besar manfaat ekonomik masa depan yang akan mengalir ke entitas
    • Dapat diukur dengan andal

Menggunakan ketiga hal di atas, mari kita coba mengevaluasi apakah biaya berikut dapat dikapitalisasi:

Contoh Kasus 1: Biaya Pelatihan

Konteks dan situasi biaya pelatihan adalah sebagai berikut, untuk membangun suatu stasiun angkasa luar, diperlukan pelatihan khusus untuk pegawai NASA. Tanpa pelatihan khusus ini, para pegawai tidak akan memiliki kemampuan untuk membangun stasiun angkasa luar. Apakah biaya pelatihan tersebut dapat dikapitalisasi?

Dalam menjawab permasalahan, terkadang kita terjebak pada penjelasan atas komponen biaya aset tetap yang disebutkan dalam PSAK 16, yaitu seluruh biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset ke lokasi dan kondisi yang diinginkan. Argumen yang terbentuk biasanya, tanpa adanya pelatihan, maka aset tidak dapat dibangun karena pegawai NASA tidak memiliki kemampuan untuk membangun asetnya.

Argumen tersebut walaupun terlihat seakan-akan benar, namun menyesatkan baik secara kejadian ekonomik maupun secara prinsip akuntansi.

  • Biaya training merupakan biaya yang diperlukan untuk membuat manusia siap untuk menggunakan aset/siap membangun aset, bukan sebaliknya. Sehingga, walaupun seakan-akan tanpa biaya ini manusia tidak dapat membangun aset, biaya ini tidak teratribusi secara langsung ke aset. Berbeda dengan Employee benefit pegawai yang membangun aset. Employee benefit merupakan biaya yang teratribusi langsung, karena employee benefit merupakan kompensasi atas pekerjaan membangun aset. Pekerja yang telah di-training (memiliki skillyang dibutuhkan atau pekerja yang sudah siap), secara logika akan mendapatkan employee benefit yang sesuai dengan kebutuhan untuk membangun aset. Sehingga, employee benefitinilah yang teratribusi langsung ke pembangunan aset. Sementara itu, pelatihan tidak secara langsung teratribusi ke aset, karena pelatihan menyiapkan manusia untuk membangun aset, bukan menyiapkan asetnya. (Catatan: employee benefit mengacu ke PSAK 16 dan PSAK 24. Biaya pelatihan bukan merupakan employee benefit).
  • Biaya pelatihan meningkatkan manfaat ekonomik pegawai (dalam bentuk peningkatan skill/knowledge). Pegawai adalah manusia, dan manusia bukan aset karena tidak memenuhi definisi dikuasai/dikendalikan oleh entitas. Manusia memiliki kebebasan untuk resign atau pindah pekerjaan. Sehingga, karena manfaat ekonomik masa depan dari pelatihan melekat ke manusia, maka manfaat ekonomik pelatihan tidak dikuasai perusahaan dan tidak dapat dikapitalisasi.

Contoh Kasus 2: Biaya Evaluasi Lokasi dan Studi Proyek

Biaya evaluasi lokasi dan studi proyek seakan-akan merupakan biaya yang diperlukan untuk membuat aset. Namun, biaya evaluasi lokasi dan studi proyek tidak semuanya dapat dikapitalisasi. Jika evaluasi lokasi sifatnya memilih lokasi untuk pembangunan, dan aset belum pasti akan dibangun di lokasi yang dievaluasi, maka biaya ini seharusnya dibebankan. Sementara itu, jika biaya evaluasi lokasi sifatnya mengevaluasi lokasi untuk menentukan kekuatan fondasi, kekuatan bangunan, penentuan alat tertentu untuk membangun, dan aset sudah pasti akan dibangun di lokasi, maka biaya ini dapat dikapitalisasi, karena biaya ini sudah dapat diatribusikan langsung ke pembangunan aset.

Studi proyek jika sifatnya menentukan kelayakan proyek, misalnya apakah aset layak dibangun, akan menghasilkan return yang diinginkan, maka biaya semacam ini seharusnya dibebankan, karena manfaat ekonomik kegiatan ini tidak melekat langsung ke aset dan kegiatan studi ini tidak secara langsung teratribusikan ke proyek pembangunan aset. Namun, jika studi proyek misalnya sudah berupa menentukan konstruksi bangunan yang sudah atau akan segera dibangun, maka studi ini dapat dikapitalisasi karena dapat diatribusikan secara langsung ke aset yang dibangun.

 

Dari kedua contoh di atas, dapat dilihat bahwa penentuan apakah suatu biaya dapat dikapitalisasi bukanlah hal yang sulit. Namun, terkadang argumen dibentuk untuk menjustifikasi kapitalisasi biaya, atau entitas sendiri terjebak dalam suatu argumen yang kurang tepat untuk mengkapitalisasi biaya. Dalam situasi semacam ini, entitas harus memperhatikan dampak dari pembuatan kebijakan kapitalisasi biaya. Dalam jangka pendek, kapitalisasi akan mengurangi pembebanan biaya di laba rugi. Namun, dalam periode mendatang yang penuh ketidakpastian, entitas memiliki kemungkinan untuk membebankan biaya yang tadinya dikapitalisasi secara sekaligus. Sebagai contoh jika terjadi penurunan nilai atau jika aset yang selesai dibangun tidak lagi memiliki kemungkinan besar manfaat ekonomik yang akan mengalir.

Sumber : http://sco.lt/4y5O0e

memori sensorik

memori sensorik

memori sensorik

Sensory memori kira-kira sesuai dengan awal 200-500 milidetik setelah item dirasakan. Kemampuan untuk melihat item, dan ingatlah apa yang tampak seperti hanya dengan kedua observasi, atau menghafal, adalah contoh dari memori sensorik. Dengan presentasi yang sangat singkat, peserta sering melaporkan bahwa mereka tampaknya “melihat” lebih dari mereka benar-benar dapat melaporkan. Percobaan pertama menjelajahi bentuk memori sensorik dilakukan oleh George Sperling (1960) menggunakan “paradigma laporan parsial”.Subyek disajikan dengan grid 12 huruf, disusun menjadi tiga baris empat. Setelah presentasi singkat, subyek kemudian dimainkan baik nada tinggi, sedang atau rendah, cuing mereka yang baris yang laporan. Berdasarkan laporan percobaan ini parsial, Sperling mampu menunjukkan bahwa kapasitas memori sensori adalah sekitar 12 item, tetapi itu rusak sangat cepat (dalam beberapa ratus milidetik). Karena bentuk merendahkan memori begitu cepat, peserta akan melihat layar, tetapi tidak mampu untuk melaporkan semua item (12 dalam prosedur “seluruh laporan”) sebelum mereka membusuk. Memori jenis ini tidak dapat diperpanjang melalui latihan.

Jangka Pendek

memori jangka pendek memungkinkan mengingat selama beberapa detik sampai satu menit tanpa latihan. Kapasitasnya juga sangat terbatas: George A. Miller (1956), ketika bekerja di Bell Laboratories, percobaan yang dilakukan menunjukkan bahwa toko dari memori jangka pendek adalah 7 ± 2 item (judul kertas yang terkenal, (” Jumlah ajaib 7 ± 2 “). Modern perkiraan kapasitas memori jangka panjang lebih rendah, biasanya di urutan 4-5 item, Namun, kapasitas memori dapat ditingkatkan melalui proses yang disebut chunking. Sebagai contoh, dalam mengingat sepuluh digit nomor telepon, seseorang bisa bongkahan angka menjadi tiga kelompok: pertama, kode area (seperti 215), maka potongan tiga digit (123) dan terakhir sebuah chunk empat digit (4567). Metode ini mengingat nomor telepon jauh lebih efektif daripada mencoba untuk mengingat string dari 10 digit, adalah karena kita dapat chunk informasi menjadi bermakna kelompok angka. Ini Herbert Simon menunjukkan bahwa ukuran ideal untuk chunking huruf dan angka, yang berarti atau tidak, tiga. Hal ini dapat tercermin dalam beberapa negara dalam kecenderungan untuk mengingat nomor telepon sebagai beberapa potongan tiga angka dengan kelompok terakhir empat nomor, umumnya dipecah menjadi dua kelompok dua.

memori jangka pendek diyakini mengandalkan sebagian besar pada kode akustik untuk menyimpan informasi, dan untuk tingkat yang lebih rendah kode visual. Conrad (1964) menemukan bahwa subjek tes mengalami kesulitan lebih mengingat koleksi kata-kata yang akustik sama (misalnya, anjing babi, kabut, rawa, log).

Namun, beberapa individu telah dilaporkan untuk dapat mengingat sejumlah besar informasi, cepat, dan dapat mengingat informasi yang dalam hitungan detik

Sumber : http://scalar.usc.edu/works/guest-author/explanation-of-living-things-that-can-make-your-own-food-complete?t=1573142235153

RAM (Random Access Memory)

RAM (Random Access Memory)

RAM (Random Access Memory)

Random access memoryRAM adalah sebuah tipe penyimpanan komputer yang dapat diakses dalam waktu yang tetap tidak memperdulikan letak data tersebut dalam memori. Ini berlawanan dengan alat memori urut, seperti tape magnetik, disk dan drum, di mana gerakan mekanikal dari media penyimpanan memaksa komputer untuk mengakses data secara berurutan.

Pertama kali dikenal pada tahun 60’an. Memori semikonduktor sangat populer karena harganya yang sangat mahal. Saat itu lebih lazim untuk menggunakan memori utama magnetic.

Perusahaan semikonduktor seperti Intel memulai debutnya dengan memproduksi RAM , lebih tepatnya jenis DRAM.

RAM dapat ditulis dan dibaca, berlawanan dengan memori-baca-saja (read-only-memory, ROM), RAM biasanya digunakan untuk penyimpanan primer (memori utama) dalam komputer untuk digunakan dan mengubah informasi secara aktif, meskipun beberapa alat menggunakan beberapa jenis RAM untuk menyediakan penyimpanan sekunder jangka-panjang.

Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa ROM merupakan jenis lain dari RAM, karena sifatnya yang sebenarnya juga Random Access seperti halnya SRAM ataupun DRAM. Hanya saja memang proses penulisan pada ROM membutuhkan proses khusus yang tidak semudah dan fleksibel seperti halnya pada SRAM atau DRAM. Selain itu beberapa bagian dari space addres RAM ( memori utama ) dari sebuah sistem yang dipetakan kedalam satu atau dua chip ROM.

Tipe umum RAM

  • DRAM atau Dynamic RAM
  • SRAM atau static RAM
  • NV-RAM atau Non-volatile RAM
  • Fast page mode DRAM
  • EDO RAM atau Extended Data Out DRAM
  • DDR SDRAM atau Double Data Rate Synchronous DRAM sekarang (2005) mulai digantikan dengan DDR2
  • RDRAM atau rambus DRAM
  • XDR DRAM
  • SDRAM atau Synchronous DRAM

Tipe tidak umum RAM

  • Dual-ported RAM
  • Video RAM, memori port-ganda dengan satu port akses acak dan satu port akses urut. Dia menjadi populer karena semakin banyak orang membutuhkan memori video. Lihat penjelasan dalam Dynamic RAM.
  • WRAM
  • MRAM
  • FeRAM

Produsen peringkat atas RAM

  • Infineon
  • Hynix
  • Samsung
  • Micron
  • Rambus
  • Corsair

Proses

Dari informasi pengolahan perspektif ada tiga tahap utama dalam pembentukan dan pengambilan memori:

  • Encoding atau pendaftaran (menerima, pengolahan dan menggabungkan informasi yang diterima)
  • Penyimpanan (penciptaan catatan permanen dari informasi yang dikodekan)
  • Retrieval , mengingat atau ingatan (memanggil kembali informasi yang disimpan dalam menanggapi beberapa isyarat untuk digunakan dalam proses atau kegiatan)

Sumber : https://www.thebaynet.com/community/science/13-factors-that-cause-ocean-damage-and-its-explanations.html

No. 10 Tahun 2009 tentang Sertifikasi Guru

No. 10 Tahun 2009 tentang Sertifikasi Guru

No. 10 Tahun 2009 tentang Sertifikasi Guru

Sebagai penjabaran dari Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2008 , khususnya terkait dengan pasal-pasal yang mengatur tentang sertifikasi guru dan pengawas sekolah dalam jabatan, pemerintah telah menerbitkan peraturan baru dalam bentuk PERMENDIKNAS Nomor 10 Tahun 2009 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan, yang didalamnya mengatur proses sertifikasi guru dan pengawas sekolah dalam jabatan, baik yang dilaksanakan melalui uji kompetensi maupun pemberian sertifikat langsung.

Dengan diterbitkannya peraturan ini, maka PERMENDIKNAS No. 17 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan sebagaimana telah diubah dengan PERMENDIKNAS No. 11 Tahun 2008 dinyatakan tidak berlaku.

Anda ingin mengetahui isi Permendiknas dalam  bentuk salinannya? Silahkan klik  tautan di bawah ini ! Bagaimana pula tanggapan  Anda atas kehadiran  Permendiknas yang baru ini?

Baca Juga :

Instrumen Penyelenggaraan BK

Instrumen Penyelenggaraan BK

Instrumen Penyelenggaraan BK

Untuk mengetahui sejauhmana penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling  (BK) di sekolah harus dilakukan penilaian (evaluasi) dan untuk menjaring data yang dibutuhkan  tentunya  diperlukan instrumen tertentu.  Dalam hal ini, saya mencoba mengembangkan sebuah instrumen, yang didalamnya berusaha menjaring data penyelenggaraan BK di sekolah secara menyeluruh,  mencakup aspek pengorganisasian  dan substansi pelayanan BK di SMP, SMA dan SMK. Instrumen ini diberi judul “Instrumen Penilaian Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Instrumen ini bisa digunakan oleh para pengawas BK dalam rangka menilai penyelenggaraan BK di sekolah-sekolah yang menjadi binaannya dan juga bisa digunakan oleh kepala sekolah dan guru BK di sekolah masing-masing untuk kepentingan evaluasi diri.

Instrumen ini masih bersifat “trial” dan masih membutuhkan validasi lebih lanjut. Bagi Anda yang berminat menggunakan instrumen ini, silahkan dipelajari dan dimungkinkan untuk dimodifikasi sesuai kondisi dan perkembangan BK saat ini. Saya berharap Anda bisa memberikan feedback  atas instrumen yang saya kembangkan ini  melalui forum blog ini, sehingga instrumen ini benar-benar dapat menjadi sebuah instrumen yang handal dan valid.

Instrumen Supervisi Akademik

Instrumen Supervisi Akademik

Instrumen Supervisi Akademik

Tugas pengawas sekolah diantaranya melaksanakan pembinaan dan penilaian teknik dan administratif pendidikan terhadap sekolah yang menjadi tanggungjawabnya. Tugas ini dilakukan melalui pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, dan tindak lanjut hasil pengawasan. Supervisi oleh pengawas sekolah meliputi supervisi akademik yang berhubungan dengan aspek pelaksanaan proses pembelajaran, dan supervisi manajerial yang berhubungan dengan aspek pengelolaan dan administrasi sekolah.

Supervisi akademik dapat dilakukan oleh pengawas, kepala sekolah, dan guru yang ditugasi oleh kepala sekolah untuk melakukan tugas sebagai penyelia. Untuk membantu para penyelia melaksanakan supervisi akademik yang terprogram, terarah, dan berkesinambungan, APSI Pusat telah mengembangkan Instrumen Supervisi (IS) Akademik. Format IS Akademik ini meliputi tiga bagian yang digunakan sebelum pengamatan (Pra observasi), selama pengamatan (Observasi) dan setelah pengamatan pembelajaran (Pasca observasi).

Dengan mengacu Instrumen Supervisi (IS) Akademik ini diiharapkan penyelia dapat melaksanakan supervisi akademik secara klinis melalui pendekatan kemitraan (collegial) dengan siklus perencanaan yang sistematis, pengamatan yang cermat, dan umpan balik yang objektif dan segera, untuk memberikan bantuan teknis kepada guru dalam melaksanakan pembelajaran yang efektif, efisien dan berkualitas.

Pengurus PGRI Kabupaten Bogor Gelar Pelatihan Guru

Pengurus PGRI Kabupaten Bogor Gelar Pelatihan Guru

Pengurus PGRI Kabupaten Bogor Gelar Pelatihan Guru

Menga­wali tahun pelajaran 2018/2019, Pengurus Persatuan Guru Re­publik In­donesia (PGRI) Kabupaten Bogor menggelar pelatihan untuk gu­ru.

Acara yang dipusatkan di Aula PGRI Cabang Bogor, Jalan Pang­eran Asogiri, Tanah Baru, Bogor, Jawa Barat, ini mengambil tajuk, ”Membangun Etos Kerja dan Pro­fesionalisme Berbasis Quantum Learning” dengan menampilkan narasumber tunggal H Asep Mah­fudin dari Rumah Karakter Indo­nesia, Rabu (8/8).

Setelah dibuka secara resmi oleh Ketua PGRI Kabupaten Bogor, Dadang

Suntana, panitia men­daulat Asep Mahfudin mengisi materi. Pria kelahiran Cimahi, Bandung, 4 April 1978 ini, langs­ung melakukan penyegaran dan memecah kebekuan suasana melalui tepuk dan gerak untuk melatih konsentrasi.

Kegiatan dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama, membangun etos kerja dan profesionalisme. Sedangkan, sesi kedua etos kerja dalam bingkai quantum learning.

Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini mengatakan, guru sebagai

ujung tombak pen­didikan di Indonesia harus me­miliki etos kerja yang tinggi. ‘’Kunci guru excellent atau etos personal dikembangkan di quan­tum learning. Supaya guru-guru dalam mengajar, berperilaku, dan bersikap harus berpijak pada delapan kunci,’’ katanya.

Kemudian, pria yang sudah me­nelurkan enam judul buku ini memberikan delapan kunci bagi guru yang unggul. Pertama, me­miliki integritas. ”Jadi, guru yang hebat dan istimewa itu guru yang memiliki integritas. Apa yang dia pikirkan, apa yang dia lakukan, sesuai,’’ terangnya.

Kedua, guru hebat itu selalu memaknai apa yang terjadi dalam hidupnya.

Setiap mengalami ke­gagalan, selalu bangkit dan bang­kit lagi. ‘’Nah, kalau guru punya sikap seperti itu sangat luar biasa.’’

Ketiga, guru hebat bicaranya selalu positif. Muncul dari situ dia selalu bicara memotivasi dan menginsiprasi.

 

Baca Juga :

Jadi Ajang Tingkatkan Jiwa Nasionalisme

Jadi Ajang Tingkatkan Jiwa Nasionalisme

Jadi Ajang Tingkatkan Jiwa Nasionalisme

Sekolah Dasar Negeri ( SDN ) Cilen­dek Timur 2 Wakili Kecamatan Bogor Barat pada Lomba Tata Upacara Bendera ( LTUB ) tingkat Kota Bogor untuk sekolah dasar dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ( RI ) yang ke 73.

MENURUT Kepala Sekolah SDN Cilendek Timur 2 Rini Widyaningsih Aryani

pada lomba LUTB ini selain menjadi wakil Keca­matan Bogor Barat pada ajang tersebut. Dari ajang ini juga mengajak seluruh warga sekolah untuk terus berupaya meningkatkan jiwa nasionalisme perserta didik dan mem­bentuk karakter bangsa. Sebab tujuan pen­didikan nasional adalah, mencerdaskan ke­hidupan bangsa dan mengembangkan ma­nusia Indonesia seutuhnya, yakni manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berbudi pekerti yang santun.

”Saya berharap dari lomba Tata Upacara Bendera (LTUB) tingkat SD Kota

Bogor. Para siswa bisa membiasakan tertib dan disiplin berpenampilan rapih serta meningkatkan kemampuan memimpin dan membina ke­kompakan serta kerjasama,” ujarnya.

Bukan hanya itu saja Rini Widyaningsih Ary­ani juga meminta kepada guru

agar bisa membang­kitkan semangat peserta didik dan memberikan motivasi pendidikan sesuai tema HUT RI KE 73 yaitu “Kerja Kita Prestasi Bangsa”. Dengan begitu maka rasa nasionalisme selalu tertanam dalam semangat dan jiwa kebangsaan yang selalu terpatri dalam hati sanubarinya.

 

Sumber :

https://www.artstation.com/ahmadali88/blog/wQl2/history-of-the-establishment-of-a-palestinian-state

SDN Malabar Ikuti LTUB Tingkat Kota Bogor

SDN Malabar Ikuti LTUB Tingkat Kota Bogor

SDN Malabar Ikuti LTUB Tingkat Kota Bogor

Tim Penilai Lomba Tata Upacara Bendera (LTUB) jenjang SD tingkat Kota Bogor 2018 mulai melakukan penilaian terhadap SDN Malabar selaku utusan dari Kecamatan Bogor Tengah di halaman sekolahnya, Jalan Malabar, Kelura­han Babakan, kemarin.

Kegiatan tersebut langsung disak­sikan Pelaksana Tugas (Plt) Kasi

Kesiswaan SD Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor Jajang Koswara, Ketua Kelompok Kerja Kepala SD (K3SD) Kecamatan Bogor Tengah Wahyu, kepala SD se-Kecamatan Bogor Tengah dan para pengawas SD. Bertindak selaku Inspektur Upa­cara, Kepala SDN Malabar, Rahman.

Dalam sambutannya, Rahman ber­harap peserta apel selalu siap men­jadi

yang terbaik, terutama dalam LTUB 2018 ini. Selain itu, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Untuk itu, ia mengajak siswa dan pendidik meningkatkan rasa religius, kemandirian serta in­tegritas dan penuh gotong-royong dalam membimbing, membina anak bangsa dalam membentuk anak-anak berkarakter dan berbudi pekerti yang baik.

”Kita harus bisa membangkitkan semangat generasi muda dan mem­beri

motivasi pendidikan sesuai tema HUT ke-73 RI yakni kerja kita prestasi bangsa dan kita sebagai pendidik dan pengajar harus me­ningkatkan kembali pendekatan terhadap siswa, terutama untuk membentuk karakter anak-anak yang berguna bagi orang tua, agama dan bangsa,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Panitia LTUB tingkat Kota Bogor 2018, Jajang Kos­wara, menjelaskan, LTUB diikuti 6 SD dari enam kecamatan di Kota Bogor dengan dibiayai APBD Kota Bogor. ”Lomba ini merupakan ke­giatan rutin tahunan Dinas Pendi­dikan (Disdik) Kota Bogor. Bagi para juara akan diberikan trofi, pia­gam dan uang pembinaan,” pung­kasnya.

 

Sumber :

https://www.artstation.com/ahmadali88/blog/Kr6a/history-of-the-churchs-existence-in-indonesia