Supply Chain Produk Biskuit Kaleng

Supply Chain Produk Biskuit Kaleng

Supply Chain Produk Biskuit Kaleng

Di dalam pembuatan biscuit kaleng dipabrik biscuit (manufacture) dibutuhkan bahan-bahan yang dibagi ke dalam :

1.Bahan Baku, antara lain gandum (tepung terigu), telur, gula (tebu), garam, mentega, kaleng (aluminium)

2.Bahan Pelengkap, antara lain obat pengembangan biscuit, pengawet makanan, dan lain-lain.

Bahan-bahan tersebut didapat dari supplier-supplier antara lain :

  • Supplier Terkecil: Penghasil Gandum, Penghasil Tebu, Penghasil Garam, Penghasil Mentega, Penghasil Telur, Penghasil Obat Pengembang, Penghasil Pengawet makanan, Penghasil Alumunium, dan Pengahsil Plastik.
  • Suppllier Besar: Pabrik Tepung Terigu, Pabrik Gula, Pabrik Gula, Pabrik Obat Pengembang, PabrikPengawet Makanan, Pabrik Kaleng,dan Pabrik Plastic.

Setelah bahan-bahan dipasok ke pabrik biscuit, lalu diolah dan diuji laboraturium terlebih dahulu. Setelah itu disimpan didalam gudang, barulah didistribusikan oleh para distributor yang dibagi menjadi : distributor local dan distributor luar negri. Dari distributor lalu disalurkan ke supermarket-supermaket (wholesaler) dan barulah sampai ditangan konsumen.

Baca :

Etika dan Profesi

Etika dan Profesi

Etika dan Profesi

Menurut Kamus Besar Bhs. Indonesia (1995) Etika adalah Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat
Etika adalah Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk, tentang hak dan kewajiban moral, sedangkan menurut Maryani & Ludigdo (2001) “Etika adalah Seperangkat aturan atau norma atau pedoman yang mengatur perilaku manusia, baik yang harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan yang di anut oleh sekelompok atau segolongan masyarakat atau profesi”.
Dari asal usul kata, Etika berasal dari bahasa Yunani ‘ethos’ yang berarti adat istiadat/ kebiasaan yang baik Perkembangan etika yaitu Studi tentang kebiasaan manusia berdasarkan kesepakatan, menurut ruang dan waktu yang berbeda, yang menggambarkan perangai manusia dalam kehidupan pada umumnya, Etika disebut juga filsafat moral adalah cabang filsafat yang berbicara tentang praxis (tindakan) manusia. Etika tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan mempersoalkan bagaimana manusia harus bertindak. Tindakan manusia ini ditentukan oleh bermacam-macam norma. Norma ini masih dibagi lagi menjadi norma hukum, norma agama, norma moral dan norma sopan santun.
etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan “self control”, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok social (profesi) itu sendiri.

Pengertian Profesionalisme, Profesional dan Profesi Profesionalisme adalah suatu paham yang mencitakan dilakukannya kegiatan-kegiatan kerja tertentu dalam masyarakat, berbekalkan keahlian yang tinggi dan berdasarkan rasa keterpanggilan serta ikrar untuk menerima panggilan tersebut dengan semangat pengabdian selalu siap memberikan pertolongan kepada sesama yang tengah dirundung kesulitan ditengah gelapnya kehidupan (Wignjosoebroto, 1999). Dengan demikian seorang profesional jelas harus memiliki profesi tertentu yang diperoleh melalui sebuah proses pendidikan maupun pelatihan yang khusus, dan disamping itu pula ada unsur semangat pengabdian (panggilan profesi) didalam melaksanakan suatu kegiatan kerja. Hal ini perlu ditekankan benar untuk mem bedakannya dengan kerja biasa (occupation) yang semata bertujuan untuk mencari nafkah dan/ atau kekayaan materiil-duniawi Dua pendekatan untuk mejelaskan pengertian profesi:

1. Pendekatan berdasarkan Definisi
Profesi merupakan kelompok lapangan kerja yang khusus melaksanakan kegiatan yang memerlukan keterampilan dan keahlian tinggi guna memenuhi kebutuhan yang rumit dari manusia, di dalamnya pemakaian dengan cara yang benar akan keterampilan dan keahlian tinggi, hanya dapat dicapai dengan dimilikinya penguasaan pengetahuan dengan ruang lingkup yang luas, mencakup sifat manusia, kecenderungan sejarah dan lingkungan hidupnya; serta adanya disiplin etika yang dikembangkan dan diterapkan oleh kelompok anggota yang menyandang profesi tersebut.

2. Pendekatan Berdasarkan Ciri

Definisi di atas secara tersirat mensyaratkan pengetahuan formal menunjukkan adanya hubungan antara profesi dengan dunia pendidikan tinggi. Lembaga pendidikan tinggi ini merupakan lembaga yang mengembangkan dan meneruskan pengetahuan profesional.
Karena pandangan lain menganggap bahwa hingga sekarang tidak ada definisi yang yang memuaskan tentang profesi yang diperoleh dari buku maka digunakan pendekatan lain dengan menggunakan ciri profesi. Secara umum ada 3 ciri yang disetujui oleh banyak penulis sebagai ciri sebuah profesi.

Sebuah profesi hanya dapat memperoleh kepercayaan dari masyarakat, bilamana dsjjalam diri para elit profesional tersebut ada kesadaran kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukannya.

Cybercrime

Cybercrime

Cybercrime

Secara singkat cybercrime, merupakan suatu tindak kejahatan yang dilakukan pada teknologi cyber, menggunakan computer sebagai alat utama untuk melakukan kejahatan.

Ada beberapa kategori cybercrime diantaranya :

1. Cyberpiracy
Menggunakan teknologi komputer untuk mencetak ulang software atau informasi, lalu mendistribusikan kembali.

2. Cybertrespass

Menggunakan telnologi komputer untuk meningkatkan akses pada Sistem komputer sebuah organisasi atau individu dan meningkatkan akses Web site yang di-protect dengan password.

3. Cybervandalism
Menggunakan teknologi komputer untuk membuat program yang mengganggu proses transmisi informasi elektronik serta menghancurkan data di computer.

Contoh yang sering kita dapatkan di lingkungan sekitar kita yaitu :
• Mendistribusikan mp3 di internet melalui teknologi peer to peer dengan menggunakan perangkat lunak tertentu,
• Membuat virus SASSER yang dapat melumpuhkan jutaan komputer
• Melakukan serangan DoS (deniel of Service) ke sebuah web site.

Sumber : https://sam-worthington.net/

Penggunaan Gadget Anak Bakal Dibatasi

Penggunaan Gadget Anak Bakal Dibatasi

Penggunaan Gadget Anak Bakal Dibatasi

 

Kabar mengejutkan datang dari empat kementerian di negara ini. Keempatnya yakni Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA), Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Kemendikbud). Menurut informasi, mereka tengah menyiapkan regulasi pembatasan penggunaan gawai atau gadget bagi anak-anak, termasuk para pelajar.

Sekretaris Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

(PPPA), Pribudiarta Nur Sitepu, mengatakan, pemerintah tengah menyiapkan regulasi khusus untuk membatasi pemakaian gadget. Aturan ini dibuat karena pemerintah menyadari parahnya kecanduan gadget yang dialami anak-anak di tanah air. “Kecanduan ini dianggap jadi salah satu hal yang berpotensi menghambat perkembangan anak menuju puncak bonus demografi pada 2030,” katanya.

Hal senada diungkapkan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara.

Ia mengungkapkan, saat ini gadget kerap menjadi hal yang sulit dijauhkan dari anak-anak. Oleh karena itu, dibutuhkan pendamping dan batasan untuk mengawasi penggunaan gadget supaya anak tidak kecanduan. ”Contohnya seperti ini, selama pelajaran di kelas nanti tidak diperbolehkan pakai gadget. Nanti jika ada yang penting, (orang tua siswa, red) bisa telepon ke gurunya. Itu salah satu contohnya,” katanya.

Meski begitu, Rudiantara tidak menjelaskan lebih rinci seperti apa

rancangan aturan tersebut. Ia tidak menyebutkan kapan target aturan tersebut akan diberlakukan. ”Masih digodok (pembahasan, red). Gadget itu mungkin akan dibatasi sampai (usia) berapa tahun, tapi bukan berarti tidak boleh sama sekali,” ujarnya.

 

Baca Juga :

Kekurangan, Guru SD Merangkap Guru SMP

Kekurangan, Guru SD Merangkap Guru SMP

Kekurangan, Guru SD Merangkap Guru SMP

Kurangnya jumlah guru di SMP Satu Atap, membuat tenaga pengajar di

sekolah tersebut merekrut guru sekolah dasar. Pelaksana Tugas SMP Satu Atap, Moch Nur, mengatakan, keterpaksaan merekrut tenaga pengajar dari SD lantaran saat ini fasilitas sarana dan guru sangat minim.

“Guru yang mengajar di sini (SMP Satu Atap) memang guru SD berdasarkan

latar belakang pendidikan, tapi karena kekurangan jumlah pengajar, kita terpaksa harus merangkap di SMP juga,” ujarnya. Selain minimnya jumlah guru PNS, jumlah siswa yang ada sangat banyak yakni mencapai 350 siswa lebih. Ini tentu membutuhkan delapan Ruang Kelas Baru (RKB) dari empat ruang kelas yang ada. “Pada 2017 ada 270 siswa dan separuh lagi numpang di SDN Kiarapandak 1,” katanya.

Nur berharap pemerintah daerah maupun kementerian pendidikan dan

kebudayaan (kemendikbud) bisa lebih memperhatikan dunia pendidikan yang masih jauh dari kata layak

 

Sumber :

https://rollingstone.co.id/

Lestarikan Seni Pupuh Dan Karawitan Di Sekolah

Lestarikan Seni Pupuh Dan Karawitan Di Sekolah

Lestarikan Seni Pupuh Dan Karawitan Di Sekolah

Sudah bukan jadi rahasia umum jika seni tradisional saat ini sudah mulai

pudar. Masyarakat lebih memilih dengan seni modern. Hal itu pun sangat dirasakan bagi jajaran SDN Sindangsari 1 Kota Bogor.

Mencegah hal itu terjadi berlarut-larut di tubuh peserta didiknya. Sekolah

yang berlokasi di Kecamatan Bogor Selatan ini mempunyai jurus tersendiri. Yakni, dengan menggiatkan kembali seni pupuh dan karawitan di lingkungan sekolahnya. “Sudah kita lakukan. Dan kedua seni ini memang wajib di­ lestarikan, karena memang meru­pakan budaya asli Indonesia,” kata Kepala SDN Sindangsari 1, Ajang Nurdigalih.

Seni pupuh ini sendiri merupakan sebuah bentuk puisi tradisional ba­hasa

Sunda yang memiliki jumlah suku kata tertentu di setiap barisnya. Pupuh biasanya dibacakan dengan cara dinyanyikan (nembang) dan dibawakan dalam sebuah pentas drama teatrikal sunda. “Terdapat 17 jenis pupuh, masing-masing pupuh memiliki makna dan sifat tersendiri serta digunakan untuk tema cerita yang berbeda dan seni pupuh yang populer adalah seni pupuh Asmaran­dana tentang Cinta kasih serta seni pupuh balakatak tentang banyolan,” ucapnya.

 

Sumber :

https://voi.co.id/

Peran Pendidik dalam Proses Belajar-Mengajar

Peran Pendidik dalam Proses Belajar-Mengajar

Peran Pendidik dalam Proses Belajar-Mengajar
Peran Pendidik dalam Proses Belajar-Mengajar

Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Karena Proses belajar-mengajar mengandung serangkaian perbuatan pendidik/guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar-mengajar.

Interaksi dalam peristiwa belajar-mengajar ini memiliki arti yang lebih luas, tidak sekedar hubungan antara guru dengan siswa, tetapi berupa interaksi edukatif. Dalam hal ini bukan hanya penyampaian pesan berupa materi pelajaran, melainkan menanamkan sikap dan nilai pada diri siswa yang sedang belajar.

Peran guru dalam proses belajar-mengajar , guru tidak hanya tampil lagi sebagai pengajar (teacher), seperti fungsinya yang menonjol selama ini, melainkan beralih sebagai pelatih (coach), pembimbing (counselor) dan manager belajar (learning manager). Hal ini sudah sesuai dengan fungsi dari peran guru masa depan. Di mana sebagai pelatih, seorang guru akan berperan mendorong siswanya untuk menguasai alat belajar, memotivasi siswa untuk bekerja keras dan mencapai prestasi setinggi-tingginya.

Kehadiran guru dalam proses belajar mengajar atau pengajaran, masih tetap memegang peranan penting. Peranan guru dalam proses pengajaran belum dapat digantikan oleh mesin, radio, tape recorder ataupun oleh komputer yang paling modern sekalipun. Masih terlalu banyak unsur-unsur manusiawi seperti sikap, sistem, nilai, perasaan, motivasi, kebiasaan dan Iain-lain yang diharapkan merupakan hasil dari proses pengajaran, tidak dapat dicapai melalui alat-alat tersebut. Di sinilah kelebihan manusia dalam hal ini guru dari alat-alat atau teknologi yang diciptakan manusia untuk membantu dan mempermudah kehidupannya.

Namun harus diakui bahwa sebagai akibat dari laju pertumbuhan penduduk yang cepat (di Indonesia 2,0% atau sekitar tiga setengah juta lahir manusia baru dalam satu tahun) dan kemajuan teknologi di lain pihak, di berbagai negara maju bahkan juga di Indonesia, usaha ke arah peningkatan pendidikan terutama menyangkut aspek kuantitas berpaling kepada ilmu dan teknologi.

Misalnya pengajaran melalui radio, pengajaran melalui televisi, sistem belajar jarak jauh melalui sistem modul, mesin mengajar/ komputer, atau bahkan pembelajaran yang menggunak system E-learning (electronic learning) yaitu pembelajaran baik secara formal maupun informal yang dilakukan melalui media elektronik, seperti internet, CD-ROM, video tape, DVD, TV, handphone, PDA, dan lain-lain (Lende, 2004). Akan tetapi, e-learning pembelajaran yang lebih dominan menggunakan internet (berbasis web).

Sungguhpun demikian guru masih tetap diperlukan. Sebagai contoh dalam pengajaran modul, peranan guru sebagai pembimbing belajar justru sangat dipentingkan. Dalam pengajaran melalui radio, guru masih diperlukan terutama dalam menyusun dan mengembangkan disain pengajaran. Demikian halnya dalam pengajaran melalui televisi.

Dengan demikian dalam sistem pengajaran mana pun, guru selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan, hanya peran yang dimainkannya akan berbeda sesuai dengan tuntutan sistem ter­sebut. Dalam pengajaran atau proses belajar mengajar guru memegang peran sebagai sutradara sekaligus aktor. Artinya, pada gurulah tugas dan tanggung jawab merencanakan dan melaksanakan pengajaran di sekolah.

Sebagaimana telah di ungkapkan diatas, bahwa peran seorang guru sangatlah signifikan dalam proses belajar mengajar. Peran guru dalam proses belajar mengajar meliputi banyak hal seperti sebagai pengajar, manajer kelas, supervisor, motivator, konsuler, eksplorator, dsb. Yang akan dikemukakan disini adalah peran yang dianggap paling dominan dan klasifikasi guru sebagai:
1) Demonstrator
2) Manajer/pengelola kelas
3) Mediator/fasilitator
4) Evaluator

Baca juga:

Peran Pendidik dalam Dunia Pendidikan

Peran Pendidik dalam Dunia Pendidikan

Peran Pendidik dalam Dunia Pendidikan
Peran Pendidik dalam Dunia Pendidikan

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 Bab I Pasal 1 ayat 5 bahwa tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Sedangkan menurut ayat 6 Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.

Proses belajar/mengajar adalah fenomena yang kompleks. Segala sesuatunya berarti, setiap kata, pikiran, tindakan, dan asosiasi dan sampai sejauh mana kita mengubah lingkungan, presentasi dan rancangan pengajaran, sejauh itu pula proses belajar berlangsung (Lozanov, 1978).

Dalam hal ini pengaruh dari peran seorang pendidik sangat besar sekali. Di mana keyakinan seorang pendidik atau pengajar akan potensi manusia dan kemampuan semua peserta didik untuk belajar dan berprestasi merupakan suatu hal yang penting diperhatikan. Aspek-aspek teladan mental pendidik atau pengajar berdampak besar terhadap iklim belajar dan pemikiran peserta didik yang diciptakan pengajar. Pengajar harus mampu memahami bahwa perasaan dan sikap peserta didik akan terlihat dan berpengaruh kuat pada proses belajarnya. (Bobbi DePorter : 2001)

Proses pendidikan merupakan totalitas ada bersama pendidik bersama-sama dengan anak didik; juga berwujud totalitas pengarahan menuju ke tujuan pendidikan tertentu, disamping orde normatif guna mengukur kebaikan dan kemanfaatan produk perbuatan mendidik itu sendiri. Maka perbuatan mendidik dan membentuk manusia muda itu amat sukar, tidak boleh dilakukan dengan sembrono atau sambil lalu, tetapi benar-benar harus dilandasi rasa tanggung jawab tinggi dan upaya penuh kearifan.

Barang siapa tidak memperhatikan unsur tanggung jawab moril serta pertimbangan rasional, dan perbuatan mendidiknya dilakukan tanpa refleksi yang arif, berlangsung serampangan asal berbuat saja, dan tidak disadari benar, maka pendidik yang melakukan perbuatan sedemikian adalah orang lalai, tipis moralnya, dan bisa berbahaya secara sosial. Karena itu konsepsi pendidikan yang ditentukan oleh akal budi manusia itu sifatnya juga harus etis.

Tanpa pertanggungjawaban etis ini perbuatan tersebut akan membuahkan kesewenang-wenangan terhadap anak-didiknya. Peran seorang pengajar atau pendidik selain mentransformasikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya kepada anak didik juga bertugas melakukan pembimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Hal ini sesuai dengan UU Republik Indonesia No. 20 Pasal 39 ayat 2. Baca juga: Kata Serapan

Di samping itu merupakan suatu keharusan bagi setiap pendidik yang bertanggung jawab, bahwa di dalam melaksanakan tugasnya harus berbuat dalam cara yang sesuai dengan keadaan peserta didik Di mana selain peran yang telah disebutkan di atas, hal yang perlu dan penting dimiliki oleh pendidik yaitu pendidik harus mengetahui psikologis mengenai peserta didik. Dalam proses pendidikan persoalan psikologis yang relevan pada hakikatnya inti persoalan psikologis terletak pada peserta didik, sebab pendidikan adalah perlakuan pendidik terhadap peserta didik dan secara psikologis perlakuan pendidik tersebut harus selaras mungkin dengan keadaan peserta didik. (Sumardi Suryabrata : 2004)

Tugas dan Peran Guru dalam Proses Belajar-Mengajar

Tugas dan Peran Guru dalam Proses Belajar-Mengajar

Tugas dan Peran Guru dalam Proses Belajar-Mengajar
Tugas dan Peran Guru dalam Proses Belajar-Mengajar

Kegiatan Proses belajar-mengajar meliputi banyak hal sebagaimana yang dikemukakan oleh Adams & Decey dalam Basic Principles Of Student Teaching, antara lain guru sebagai pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, partissipan, ekspeditor, perencana, suvervisor, motivator, penanya, evaluator dan konselor.

Tugas Guru

Guru memiliki tugas yang beragam yang berimplementasi dalam bentuk pengabdian. Tugas tersebut meliputi bidang profesi, bidang kemanusiaan dan bidang kemasyarakatan. Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup dan kehidupan. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa.

Tugas guru dalam bidang kemanusiaan adalah memposisikan dirinya sebagai orang tua ke dua. Dimana ia harus menarik simpati dan menjadi idola para siswanya. Adapun yang diberikan atau disampaikan guru hendaklah dapat memotivasi hidupnya terutama dalam belajar. Bila seorang guru berlaku kurang menarik, maka kegagalan awal akan tertanam dalam diri siswa.

Guru adalah posisi yang strategis bagi pemberdayaan dan pembelajaran suatu bangsa yang tidak mungkin digantikan oleh unsur manapun dalam kehidupan sebuah bangsa sejak dahulu. Semakin signifikannya keberadaan guru melaksanakan peran dan tugasnya semakin terjamin terciptanya kehandalan dan terbinanya kesiapan seseorang. Dengan kata lain potret manusia yang akan datang tercermin dari potret guru di masa sekarang dan gerak maju dinamika kehidupan sangat bergantung dari “citra” guru di tengah-tengah masyarakat. Baca juga: PPKI

Peran Seorang Guru

a. Dalam Proses Belajar Mengajar
Sebagaimana telah di ungkapkan diatas, bahwa peran seorang guru sangar signifikan dalam proses belajar mengajar. Peran guru dalam proses belajar mengajar meliputi banyak hal seperti sebagai pengajar, manajer kelas, supervisor, motivator, konsuler, eksplorator, dsb. Yang akan dikemukakan disini adalah peran yang dianggap paling dominan dan klasifikasi guru sebagai:

1) Demonstrator
2) Manajer/pengelola kelas
3) Mediator/fasilitator
4) Evaluator
b. Dalam Pengadministrasian

Dalam hubungannya dengan kegiatan pengadministrasian, seorang guru dapat berperan sebagai:
1) Pengambil insiatif, pengarah dan penilai kegiatan
2) Wakil masyarakat
3) Ahli dalam bidang mata pelajaran
4) Penegak disiplin
5) Pelaksana administrasi pendidikan
c. Sebagai Pribadi

Sebagai dirinya sendiri guru harus berperan sebagai:
1) Petugas sosial
2) Pelajar dan ilmuwan
3) Orang tua
4) Teladan
5) Pengaman
d. Secara Psikologis

Peran guru secara psikologis adalah:
1) Ahli psikologi pendidikan
2) Relationship
3) Catalytic/pembaharu
4) Ahli psikologi perkembangan

Nilai Tinggi Bukan Syarat Utama PPDB Zonasi

Nilai Tinggi Bukan Syarat Utama PPDB Zonasi

Nilai Tinggi Bukan Syarat Utama PPDB Zonasi

Sejumlah daerah memasukkan nilai Ujian Nasional (UN) sebagai salah satu

syarat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menegaskan , bahwa nilai UN tidak boleh dijadikan sebagai syarat utama dalam menyeleksi siswa baru.

“Ujian nasional sudah tidak kita jadikan instrumen kelulusan. Bisa saja menjadi salah satu pertimbangan, tapi tidak menjadi satu hal yang wajib,” kata Inspektur Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Muchlis R.Luddin Pertimbangan jarak antara domisili siswa dengan sekolah dalam zonasi tetap menjadi prioritas utama dalam PPDB. Meski, pendaftar memiliki nilai UN tinggi tetap tak bisa semaunya memilih sekolah yang diinginkan.

Ia tetap saja harus lewat jalur zonasi umum yang sesuai dengan tempat tinggalnya.

“Jangan mentang-mentang anaknya sudah nilai UN tinggi lalu harus masuk di luar zonasi, tidak,” jelas Muchlis. Ia mengingatkan kembali, kebijakan PPDB harus sesuai dengan Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018. Yakni sebanyak 90 persen daya tampung menggunakan seleksi jarak, 5 persen jalur prestasi, dan 5 persem jalur migrasi orangtua.

Pemerintah daerah tidak bisa sembarangan dalam membuat kebijakan tanpa ada alasan

yang tidak rasional. “Pemda membuat skenario teknisnya, tapi tetap tidak boleh melanggar Permendikbud 51 Tahun 2018. Kalaupun ada adjustment yang rasional dan tidak keluar dari prinsip Permendikbud 51,” pungkasnya

 

Baca Juga :