Moto situs Anda bisa diletakkan di sini

Moto situs Anda bisa diletakkan di sini

Kategori: Umum

Umum

pengertian raja secara bahasa adalah

Pengertian Taubat

Kata “taubat” berasal dari bahasa arab, taba-yatubu-taubatan yang berarti “kembali ke jalan yang benar. Secara istilah, taubat berarti kembali kepada Allah dengan melepaskan segala ikatan penyimpangan yang pernah dilakukan, kemudian bertekat untuk melaksanakan segala hak-hak Allah SWT. Didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata taubat mengandung dua pengertian. Pertama, taubat berarti sadar dan menyesali dosanya (perbuatan salah atau dosa) dan berniat memperbaiki tingkah laku dan perbuatannya. Kedua, berarti kembali ke jalan agama (jalan, hal) yang benar. Bertaubat berarti menyadari, menyesali, dan berniat hendak memperbaiki (perbuatan yang salah).
Kata “taubat” dapat disandarkan kepada manusia maupun Allah. Kata “taubat” yang disandarkan kepada manusia berarti “memohon ampun atas segala dosa dan kembali ke jalan Allah”. Orang yang melakukan taubat disebut ta’ib dan orang yang selalu dan senantiasa bertaubat disebut tawwab. Adapun kata “taubat” yang disandarkan kepada Allah berarti memberi apapun kepada hamba yang bertaubat. Allah disebut at-tawwab, karena Allah senantiasa memberikan pengampunan kepada hamba-hambaNya. At-tawwab adalah salah satu nama Allah (al-Asma’ Al-Husna) yang sangat Agung. Dengan sifat At-Tawwab itu Allah mengampuni dosa-dosa hamba-Nya.
Asal makna taubat adalah “ar-ruju’ min adz-dzanbi” (kembali dari kesalahan dan dosa kepada kebenaran dan ketaatan). Adapun taubat nasuha yaitu taubat yang ikhlas, taubat yang jujur, taubat yang benar, dan taubat yang tidak diiringi lagi dengan keinginan berbuat dosa. [2]
Abdul Jalil berpendapat demikian dengan dalil Allah selalu mencantumkan kalimat إِنه هوالتواب الرحيمsesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang”. Dari pernyataan Abdul Jalil tersebut, banyak orang awam yang mengartikan bahwasanya Allah menerima tobat hamba-hambanya, tanpa melihat apa sajakah dosa yang telah dilakukan seseorang, apakah seseorang yang tengah melakukan
tobat benar-benar melaksanakan syarat-syarat tobat yang telah ditentukan. [3]

B. Syarat-Syarat Taubat

Saat Anda hendak melaksanakan shalat Anda harus memenuhi beberapa syarat, seperti: suci badan, pakaian dan tempat, telah masuk waktu, menutup aurat dll. Anda juga harus ikhlash karena Allah semata dan sesuai petunjuk Nabi Muhammad Saw, Supaya shalat Anda diterima Allah. Demikian pula halnya dengan taubat. Agar taubat seseorang diterima Allah, maka harus memenuhi syarat-syaratnya. Para ulama mengatakan, syarat taubat yaitu :
1. Ikhlas karena Allah semata.
2. Berhenti dan berlepas diri dari perbuatan dosa dan maksiat yang ia lakukan.
3. Menyesali perbuatan dosanya tersebut.
4. Bertekad tidak akan mengulangi perbuatan dosanya tersebut.
5. Melakukan taubat sesuai waktu diterimanya taubat (sebelum ruh berada di kerongkongan (sakaratul maut) atau sebelum matahari terbit dari barat)
6. Meminta keridhaan atau mengembalikan hak, jika dosa tersebut ada kaitan dengan hak orang lain. Misalnya, mengambil harta orang lain dengan cara yang batil, maka harus dikembalikan kepada orang yang berhak atas harta tersebut. Jika dosa berupa tuduhan jahat, maka harus meminta maaf kepada orang yang ia tuduh tersebut.
Kita mohon taufik kepada Allah agar Dia menghindarkan kita dari berbuat dosa dan memberikan hidayah untuk bertaubat kepada-Nya, kembali kepada jalan-Nya yang lurus tatkala kita terjatuh ke dalam lembah dosa. Amin…
Allah berfirman yang artinya, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran: 133). Allah juga berfirman yang artinya, “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. az-Zumar: 53).[4]

  1. al-qalb nama lain dari surat
  2. hadis di atas merupakan dalil tentang
  3. kelebihan dan kekurangan pendekatan historis
  4. pendekatan normatif hukum
Umum

al-qalb nama lain dari surat

Pengertian Qalb

Kata qalb ((القلب berasal dari akar kata bahasa Arab yang berarti membalik. Hal ini dikarenakan keadaan hati manusia seringkali berbolak-balik, terkadang susah, terkadang bahagia, sesekali setuju bahkan menolak. Kondisi qalb sangatlah berpotensi untuk tidak konsisten.[1] Kata qalb bisa diartikan sebagai qalb yang berarti hati, yaitu suatu organ dalam tubuh manusia dan qalb sebagai kalbu, yaitu pikiran manusia yang berkaitan dengan perasaan, atau sesuatu yang digunakan untuk merasakan dalam pemikiran manusia.
Dimensi insaniah psikis manusia yang lain adalah Qolb, ia adalah bentuk masdar (kata benda dasar) dari kata qalabaI yang ber arti berubah, berpindah, atau berbalik. Sedangkan kata qolab sendiri berarti hati atau jantung. Jantung disebut qalb karena memang secara fisik keadaanya terus-menerus berdetak dan bolak-balik memompa darah. Sedangkan dalam pengertian psikis, qalb adalah suatu keadaan rohaniah yang selalu bolak-balik dalam menentukan suatu ketetapan.[2]

Menurut Abdul Mujib,

Kalbu Ruhani merupakan bagian esensi dari fitrah nafsani yang berfungsi sebagai pemandu, pengontrol, dan pengendali tingkah laku, sehingga bila ia mampu berfungsi normal, maka kehidupan manusia akan sesuai fitrahnya. Dengan hati yang bersih (memiliki uluhiyyat dan rabbaniat) inilah manusia tidak hanya mengenal lingkungan fisik dan sosial tetapi juga mengenal lingkungan spiritual keagamaan dan ketuhanan.[3]
Menurut Imam Al-Ghonzali dalam bukunya Ihya Ulumuddin makna kata hati memiliki dua pengertian:
1. Yaitu daging berbentuk lentur yang terdapat di sebelah kiri dada manusia dan di dalamnya terdapat rongga berisi darah hitam. Hati merupakan sumber dan tambang bagi roh. Daging dalam bentuk seperti ini juga terdapat pada hewan serta manusia yang sudah meninggal dunia.
2. Yaitu benda yang sangat halus yang didominasi oleh sifat ruhani atau spiritual. Seluruh anggota tubuh mempunyai hubungan dengan benda yang satu ini. Benda yang sangat halus inilah yang mampu mengenal allah ta’ala dan menjangkau semua yang tidak dapat dijangkau oleh pikiran[4] serta angan-angan. Dan dari hati itulah hakekat manusia dinilai oleh Allah.

Al-Ghazali tidak membahas qalb sebagai jantung atau hati dalam arti fisik (definisi materi), tetapi entitas yang halus yang menjadi hakikat manusia (definisi spiritual). Ia tidak terlalu membahas qalb dari definisi materi karena ia berkaitan penuh dengan masalah kedokteran dan tidak terlalu terkait dengan ajaran agama. Lain daripada itu, jantung dan hati atau organ tubuh lainnya hanyalah sekadar alat bagi entitas ini untuk merealisasikan keputusannya. Tatkala jantung mati dan berhenti berfungsi, maka ikut matilah seluruh organ tubuh secara keseluruhan, sedangkan jiwa manusia tidak ikut binasa dengan hancurnya badan. Jadi dalam hal ini, yang dimaksud qalb menurut al-Ghazali adalah substansi non-materi yang gaib dan tidak kelihatan.


Sumber: https://voi.co.id/jasa-penulis-artikel/

Umum

hadis di atas merupakan dalil tentang

Kiamat kubra atau kiamat besar

Kiamat kubra atau bisa kita sebut kiamat besar atau kiamat dalam arti yang sesungguhnya, yaitu hancurnya seluruh alam semesta dengan segala isinya yang ditandai atau dimulai dari tiupan sangkakala Malaikat Israfil.
Dalil tentang kiamat kubra:
“Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi serta gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur, Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat, Dan terbelahlah langit, Karena pada hari itu langit menjadi lemah.” (Q.S. Al-Haqqah: 13-16)

Tanda-tanda kiamat kubra:

a. Terbitnya matahari dari arah barat dan terbenam dari arah timur. Hal ini terjadi karena perubahan besar dalam susunan alam semesta.
b. Keluarnya suatu binatang yang sangat aneh. Binatang ini dapat bercakap-cakap kepada semua orang dan menunjukkan kepada manusia bahwa kiamat sudah sangat dekat.
c. Datangnya Imam Mahdi. Beliau termasuk keturunan dari Rasulullah SAW. Oleh karena itu, beliau serupa benar akhlak dan budi pekertinya dengan Rasulullah SAW.
d. Munculnya Dajal. Dajal adalah seorang yang muncul sebagai tanda semakin dekat datangnya kiamat. Dajal bermata buta sebelah dan mengaku sebagai “Tuhan”.
e. Hilang dan lenyapnya Al-Qur’an dan mushaf, hafalan dalam hati. Bahkan lenyap pulalah yang ada di dalam hati seseorang.
f. Turunnya Nabi Isa as. Beliau akan turun ke bumi ini di tengah-tengah merajalela pengaruh Dajal.

C. Peristiwa Setelah Hari Akhir
Sesudah hari kiamat manusia dibangkitkan dari kematian dan mulai menjalani kehidupan baru di alam akhirat dengan fase sebagai berikut :
1. Alam barzah
Yaitu batas antara alam dunia dengan alam akherat dan dapat disebut dengan alam kubur.
2. Alam ba’as
Yaitu peristiwa bangkitanya manusia dari alam kubur. Semua manusia pasti akan dihidupkan dan dibangkitkan kembali oleh Allah SWT untuk dimintai pertanggung jawabannya selama hidup di dunia.
3. Alam mahsyar
Ialah tempat berkumpulnya manusia setelah mati dengan berbagai macam bentuk sesuai amal perbuatan yang dilakukannya di dunia semasa hidup.
4. Yaumul hisab
Adalah hari perhitungan amal baik maupun buruk manusia yang dilakukan semasa hidupnya. Pada saat itu manusia tidak bisa mengelak ataupun menawarnya, karena anggota badan akan menjadi saksi atas segala perbuatannya di dunia.
5. Yaumul mizan
Ialah hari pertimbangan amal perbuatan yang dilakukan secara seadil-adilnya tanpa ditambah maupun dikurangi sedikitpun.
6. Surga dan neraka
Surga adalah tempat yang di dalamnya menyediakan segala bentuk kenikmatan, kebahagiaan dan kesempurnaan dari Allah SWT, hanya untuk orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Allah berfirman Q.S. Al-Bayyinah: 8 yang artinya:
“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah Surga ‘Adn, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada TuhanNya.”(Q.S. Al-Bayyinah: 8)
Sedangkan neraka adalah kampung yang dipersiapkan Allah untuk orang-orang kafir, yaitu orang-orang yang mendustakan para Rasul dan menolak syariat-Nya. Neraka adalah kehinaan terbesar dan kerugian yang abadi,[4] seperti yang di firmankan Allah dalam Q.S At-Taubah: 63 yang artinya:
“Tidakkah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Allah dan Rasil-Nya, maka sesungguhnya Neraka Jahannamlah baginya, dia kekal di dalamnya. Itu adalah kehinaan yang besar. (Q.S. At-Taubah: 63)


Sumber: https://pendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/

Umum

kelebihan dan kekurangan pendekatan historis

PENDEKATAN HISTORIS

Sejarah:

– Peristiwa yang telah terjadi di masa lampau (ما حدث في الماضي, ce qui est passé, what happened in the past) = sejarah sebagai peristiwa
– Sejarah sebagai cerita (سرد الأحداث, account of the past, l’histoire de ce qui est passé) = sejarah sebagai cerita
– Sebuah peristiwa tidak terjadi secara terpisah dari yang mendahuluinya dan yang sesudahnya
– Sejarah berbicara tentang asal-usul dan perubahan = perkembangan dalam waktu.
è Pendekatan historis terhadap Islam berarti menganggap Islam sebagai sebuah organisme yang berkembang dan melihat perkembangan itu sebagai pokok kajian.

Beberapa catatan tentang Sejarah
1. Sejarah ditulis berdasarkan fakta, tetapi fakta selalu tidak cukup dan karenanya digunakan juga imajinasi untuk membangun kembali masa lampau. Yang penting di sini adalah eksplanasi yang masuk akal
2. Sejarah mempelajari proses dalam waktu: asal-usul, pertumbuhan dan perkembangan dari sekelompok orang, suatu ide, suatu praktek dsb. Yang menjadi perhatian adalah apa yang diyakini benar-benar terjadi di masa lampau. Untuk melalkukan itu, keyakinan dasar bahwa tidak ada yang sakral dalam penyelidikan sejarah merupakan dasar paling dalam.
3. Ide dan peristiwa selalu berada dalam konteks. Karena itu, kesadaran akan ruang dan waktu sangat penting dalam penelitian historis.
4. Manusia merupakan pelaku sejarah dan manusia mempunyai tabiat dasar yang tetap. Karena itu, sejarawan yakin bahwa apa yang terjadi pada masa lampau dapat diterangkan berdasarkan pengalaman manusia masa kini. Ide dan peristiwa selalu berada dalam konteks. Karena itu, kesadaran akan ruang dan waktu sangat penting dalam penelitian historis. Di dalam bahasa Perancis dikatakan orang l’histoire se répète (sejarah berulang). Akan tetapi dalam kenyataannya, tidak pernah ada peristiwa yang sama. Karena itu dikatakan ole seorang filsuf Yunani, Demokritos: Πάντα ῥεῖ (Panta rhei), on the same stream one never steps twice. (Semua mengalir; pada aliran air tidak ada orang yang dapat mencebur dua kali).
5. Manusia merupakan pelaku sejarah dan manusia mempunyai tabiat dasar yang tetap. Karena itu, sejarawan yakin bahwa apa yang terjadi pada masa lampau dapat diterangkan berdasarkan pengalaman manusia masa kini.

àPendekatan historis terhadap Islam: Islam adalah sesuatu (ajaran, umat, entitas politik dst.) yang berproses dalam ruang dan waktu.

Metode Sejarah:
I. Merumuskan pertanyaan
II. Mengumpulkan bahan-bahan (Heuristik), the search for material on which to work, for sources of information.
III. Meneliti data yang terkumpul (Kritik), the appraisement of the material or sources from the viewpoint of evidential value ® menyusun fakta.
1. Kritik eksternal
2. Kritik internal
IV. Merumuskan hasil, formal statement of the findings of heuristic and criticism which includes the assembling of a body of historical data and their presentation in terms of objective truth and significance (synthesis and exposition).[1]
Ada yang memberikan variasi lain sebagai berikut:
IV. Menafsirkan fakta (Auffassung)
V. Menulis cerita (Darstellung),
Menurut Drijvers, ada empat tahap yang harus dilalui dalam penerapan metode historis:
1. Examination of the facts on the basis of the available data.
2. Formulating an explanatory hypothesis.
3. Analysis of the implications of this hypothesis.
4. Checking these implications by means of additional data.[2]
Menurut Joachim Wach, pendekatan historis “attempts to trace the origin and growth of religious ideas and institutions through definite periods of historical development and to assess the role of the forces with which religion contended during these periods.[3] (Pendekatan historis berusaha untuk melacak asal usul dan pertumbuhan ide-ide dan lembaga-lembaga keagamaan sepanjang jangka waktu tertentu dari perrumbuhan historis dan menilai peran kekuatan-kekuatan yang dilawan agama selama waktu itu).
… the plurality of religions in the present world and the variety of cultures moulded by different religions cannot adequately understood without a thoroughly historical study of the origin, growth, and development of particular religion, affected by ongoing dynamic of continuity and change.[4] (kemajemukan agama-agama di masa kini dan keragaman budaya yang dibentuk oleh berbagai agama tidak dapat dipahami secara seksama tanpa kajian historis terhadap asal-usul, pertumbuhan dan perkembangan agama tertentu, yang digerakkan oleh dinamika kesinambungan dan perubahan yang terus berlangsung)

  1. pendekatan normatif hukum
  2. aspek-aspek sasaran studi islam
  3. Depresi dan Bunuh Diri
  4. Masalah Psikologi dan Sosio-Emosional Pada Remaja
Umum

pendekatan normatif hukum

Pendekatan normatif

Kajian terhadap Islam pada garis besarnya dapat dibagi menjadi pengkajian dengan pendekatan normatif dan pengkajian dengan pendekatan non-normatif. Yang terakhir ini dapat berupa pengkajian historis, sosiologis, antropologis, filosofis dan sebagainya yang secara bebas mengamati dan menganalisis gejala keislaman.
Pengkajian dengan pendekatan normatif berusaha untuk menemukan, memahami dan menjelaskan norma-norma yang semestinya dipakai sebagai pedoman oleh seorang Muslim dan aturan-aturan keagamaan yang semestinya dijalankan. Kajian ini melihat Islam sebagai suatu ajaran yang mutlak, kebenarannya tidak terikat dengan ruang atau waktu. Ajaran ini diyakini sebagai bimbingan dari Allah untuk umat manusia, yang tidak boleh dipersoalkan kebenarannya. Yang tinggal bagi orang yang percaya adalah mengamalkannya dengan sesetia mungkin.
Pendekatan normatif terhadap Islam didasari pada anggapan bahwa Allah menurunkan aturan-aturan untuk dijadikan pedoman bagi orang yang percaya. Aturan-aturan itu disampaikan melalui wahyu (al-Qur’an) yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad dengan sabda beliau, perbuatan dan penetapannya. Yang terakhir ini (yang disebut taqrîr) adalah persetujuan beliau atas usulan atau praktik Sahabat beliau. Sabda, perbuatan dan penetapan beliau itu—kadang-kadang ditambah dengan rangkaian nama orang-orang yang menjadi sandaran dalam periwayatan (sanad) dan informasi ringkas mengenai beberapa hal yang dianggap penting oleh periwayat—dikumpulkan dalam literatur yang disebut hadîts.[1] Dengan pendekatan normatif, pengkaji berusaha untuk menangkap pesan-pesan Allah dalam firman-Nya dan penjelasan yang diberikan melalui sunnah[2] Nabi-Nya.

Ilmu kalam: mempertahankan iman dengan dalil rasional

Fiqh: titah Allah yang berkenaan dengan perbuatan manusia yang dibebani hukum/kewajiban.
Akhlak : aturan baik buruk yang berkenaan dengan perilaku manusia.
Pada umumnya kajian dalam ketiga ilmu ini menggunakan pendekatan normatif.
Ilmu bahasa, terutama mengenai seluk beluk bahasa Arab, merupakan penolong yang sangat penting dalam pendekatan ini, karena kedua sumber Islam di atas tersusun dalam bahasa Arab. Demikian juga pengetahuan-pengetahuan teknis seperti cara menyimpulkan, menyelesaikan pernyataan-pernyataan yang berbeda-beda atau bahkan bertentangan dalam al-Qur’an dan al-Sunnah dan memilih di antara kemungkinan-kemungkinan makna yang tersedia.
Ciri umum dari kajian ini adalah Kurang memperhatikan kesejarahan teks, yakni bagaimana teks—termasuk teks kitab suci—lahir dalam kaitan dengan suasana tertentu dalam waktu tertentu dan di tempat tertentu. Kesadaran mengenai kaitan setiap teks dengan suasana tertentu ini sudah sejak lama ada dengan bukti munculnya riwayat mengenai sabab nuzûl ayat-ayat al-Qur’an dan sabab al-wurûd hadis. Sabab nuzûl dimaknai sebagai riwayat mengenai kejadian atau suasana tertentu yang ada menjelang atau berkaitan dengan turunnya ayat tertentu dari al-Qur’an. Sumber-sumber Islam yang pokok itu dianggap lepas dari ruang dan waktu
الثوابت والمتغيرات ( yang tepat tidak berubah dan yang boleh berubah)
Ciri pendekatan normatif terhadap Islam:
· Berangkat dari teks dengan metode deduktif, tidak mau berangkat dari konsep yang dikembangkan pada realitas historis kehidupan manusia
· Terkungkung pada tradisi keislaman; tidak terbuka terhadap temuan-temuan baru dalam ilmu pengetahuan, kecuali jika ada mendukung kebenaran ajaran
· Mengklaim kebenaran ajaran.
· Tidak kritis.
· Tidak sensitif terhadap persoalan nyata yang dihadapi umat; problem umat dianggap muncul karena ketidaksetiaan mereka kepada ajaran Islam.


Sumber: https://www.dosenpendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/

Umum

aspek-aspek sasaran studi islam

PENDEKATAN-PENDEKATAN DALAM KAJIAN ISLAM

Islam dalam kenyataan historis terdiri dari beberapa hal:

1. Sumber-sumber ajaran. Secara ijmak al-Qur’an (Alquran, Quran) diakui sebagai sumber utama dan al-Sunnah (Sunnah Nabi, al-Hadīts, Hadis) sumber kedua. Sumber ketiga dan seterusnya tidak sepenuhnya disepakati, seperti ijmā’ (ijmak, konsensus), ‘urf (kebiasaan baik yang berlaku pada masyarakat Muslim) dan ra’y (penalaran). Mengenai ijmak, perbedaan pendapat berkenaan dengan apakah itu merupakan sumber atau metode. Jika sumber, ijmak siapa yang mesti diambil? Ijmak para Sahabat Nabi Muhammad saw., ijmak para ulama, atau ijmak umat? Kalau ijmak para Sahabat, apa yang diambil dari situ: metodenya, isinya atau kedua-duanya? Kalau ijmak para ulama, bagaimana caranya, sejauh mana hasilnya mengikat kaum Muslimin, apakah orang yang berada jauh dari segi ruang dan waktu boleh menyelisihinya atau membuat ijmak sendiri? Kalau ijmak umat, bagaimana caranya, keabsahannya dst.
Mengenai kemungkinan ijmak menjadi metode, penjelasannya adalah: di dalam Islam tidak ada otoritas (pihak yang berwenang) untuk menentukan bahwa hukum ini berlaku atau tidak berlaku pada umat Islam. Yang ada secara pasti dan tidak diperdebatkan adalah al-Qur’an sebagai sumber, sementara pemahaman terhadapnya bisa sangat bervariasi. Dari sebuah ayat yang sama dapat dipahami pengertian yang berbeda. Ayat: وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ [الصافات: 96], (sedangkan Allah menciptakan kalian dan misalnya, dipahami oleh kaum Asy’ariah sebagai pernyataan bahwa manusia dan perbuatannya diciptakan oleh Allah, sementara kaum Mu’tazilah tidak. Bagi kaum Asy’ariah kata مَا تَعْمَلُونَ dipahami sebagai “apa yang kalian lakukan”, sedangkan bagi kaum Mu’tasilah kata ini berarti “[bahan dari] apa yang kalian buat” yakni patung. Ayat ini merupakan argumen yang diajukan oleh Nabi Ibrahim kepada kaumnya ketika beliau mereka persalahkan karena telah menghancurkan patung-patung yang mereka sembah. Beliau lalu berkata, “Apakah kalian menyembah patung-patung yang kalian pahat ini, sedangkan Allah menciptakan kalian dan apa yang kalian buat?” Jadi beliau mempersalahkan mereka karena telah menyembah patung yang kedudukannya sama (atau bahkan lebih rendah), yakni patung yang juga diciptakan.
Adat kebiasaan yang berlaku pada kaum Muslimin juga begitu. Kapan ia menjadi sumber hukum mengapa ia menjadi sumber hukum? Kalau ada bagian-bagiannya yang berbeda atau bertentangan dengan ajaran Islam yang dirumuskan di tempat dan waktu lain, apakah ia dapat dijadikan sumber?
2. Norma-norma, yakni aturan-aturan yang mengikat pemeluknya, menjadi panduan, tatanan dan pengendali tingkah laku yang berlaku dan berterima. Bahwa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup adalah baik, sedangkan mencuri tidak baik. Bahwa giat belajar adalah baik, sedangkan malas belajar dan mencontek sewaktu ujian adalah tidak baik. Bahwa menolong orang lain yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya adalah baik, sedangkan membiarkannya tak tertolong adalah tidak baik. Demikian seterusnya. Ada perbuatan yang wajib dilakukan, ada yang dianjurkan (sunat), ada yang dibebaskan tanpa anjuran atau larangan (mubah), ada yang tidak dianjurkan (makruh) dan ada yang tidak boleh dilakukan (haram).
3. Rumusan ajaran: akidah, fiqih dan akhlaq. Untuk memudahkan pemeluk Islam mengerti ajaran agamanya, para ulama merumuskan ajaran-ajaran Islam dalam tiga jenis literatur atau buku ajaran. Rumusan akidah ditemukan dalam buku-buku akidah, ilmu kalam, ilmu tauhid atau ushuluddin, rumusan mengenai kewajiban-kewajiban keagamaan dan larangan-larangannya ditemukan dalam buku-buku fiqih, buku-buku peribadatan yang bersifat umum atau buku-buku khusus seperti pesalatan, tuntunan salat, tuntunan puasa, tuntunan berniaga dan tuntunan berhaji. Rumusan tentang tata perilaku dan disiplin diri terdapat dalam buku-buku akhlaq dan buku-buku adab.
4. Umat yang melaksanakan ajaran. Islam juga dipahami sebagai kumpulan orang-orang menganut ajaran Islam yang disebut umat Islam atau kaum Muslimin. Perilaku dan keadaan mereka selalu dipandang sebagai cermin dari Islam dalam kehidupan nyata, untuk yang baik maupun yang buruk. Akhir-akhir ini Islam diidentikkan dengan kekerasan, kebodohan dan kemudahan diprovokasi untuk melakukan perbuatan tidak tertib atau pengrusakan. Ini terjadi karena ada cukup banyak orang beragama Islam yang melakukan tindakan-tindakan itu, walaupun sebenarnya itu semua bertentangan dengan ajaran Islam.


Sumber: https://www.gurupendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/

Umum

bil hikmah adalah

bil hikmah adalah

Sejak kecil hingga dewasa Muhammad saw tidak pernah menyembah berhala dan tidak pernah pula makan daging hewan yang disembelih untuk berhala-berhala. Ia sangat benci dan menjauhkan diri dari praktik-praktik kemusyrikan. Setelah menerima wahyu yang memerintahkan untuk berdakwah kepada kaumnya, mulailah Nabi Muhammad saw menyeru mereka untuk mengesakan Allah swt dan mengajak mereka untuk meninggalkan semua perilaku musyrik.
Secara garis besar substansi ajaran Islam yang didakwahkan oleh Rasulullah saw diawal kenabiannya adalah sebagai berikut:

a. Keesaan Allah swt.

Islam mengajarkan bahwa Allah swt adalah pencipta dan pemelihara alam semesta serta tempat bergantung bagi semua hambanya. Oleh karena itu umat manusia harus beribadah dan hanya menghambakan diri kepada Allah swt. Perbuatan menyekutukan Allah dengan yang lain hukumnya haram dan pelakunya mendapatkan dosa yang paling besar.
b. Hari kiamat sebagai hari pembalasan.
Kematian akan dialami oleh setiap manusia yang bernyawa. Tetapi hal tersebut bukan merupakan akhir dari segalanya. Justru merupakan awal bagi kehidupan yang panjang yakni kehidupan di alam kubur dan di alam akhirat. Adanya hari akhir merupakan peringatan bahwa kehidupan di dunia ini pun memiliki penghabisan.
c. Kesucian jiwa.
Islam menyeru umat manusia untuk senantiasa berusaha menyucikan jiwa dan tidak boleh mengotorinya. Karena tujuan Rasulullah saw diutus oleh Allah swt tiada lain dan tiada bukan ialah untuk menyempurnakan akhlak manusia.
d. Persaudaraan dan persatuan
Persaudaraan memiliki hubungan erat dengan persatuan. Sebab Islam mengajarkan bahwa sesama orang beriman adalah bersaudara. Mereka dituntut untuk saling mengasihi dan menyayangi dibawa naungan ridha ilahi.
Dalam memulai tugasnya menyiarkan agama Islam di Makkah, pada mulanya Rasulullah saw berdakwah secara sembunyi-sembunyi terhadap keluarganya yang tinggal dalam satu rumah serta mengajak sahabat-sahabatnya yang terdekat. Rasulullah mengajak seorang demi seorang agar meninggalkan agama berhala dan hanya menyembah Allah swt. Beliau aktif memberikan pelajaran, bimbingan, dan pencerahan kepada para pengikutnya di tempat tersembunyi yaitu di rumah Arqam bin Abil Arqam.
Abu bakar merupakan orang yang sangat berjasa membantu jalannya seruan dan dakwah Rasululllah saw. Melalui perantaraanya banyak orang memeluk Islam, antara lain Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidah bin Jarrah, Arqam bin Abil Arqam, Fatimah binti Khattab beserta suaminya Said bin Zaid al-Adawi. Selain itu ada pula Khadijah binti Khuwailid (istri Rasulullah saw), Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, dan beberapa orang penduduk Makkah lainnya. Mereka kemudian bergelar Assabiqunal Awwalun yaitu orang-orang yang pertama memeluk agama Islam.
Setelah tiga tahun lamanya berdakwah dengan strategi sembunyi-sembunyi (da’watul afrad), Rasulullah saw mengubah strategi dakwahnya secara terbuka dan terang-terangan. Hal ini disebabkan oleh adanya perintah Allah yang turun dalam QS. Al-Hijr ayat 94. Dengan mengundang kerabatnya dari kabilah Bani Hasyim untuk menghadiri jamuan makan, Rasulullah saw mengajak mereka agar masuk Islam. Selain itu, beliau juga mengumpulkan penduduk Mekkah terutama yang bertempat tinggal disekitar Kakbah untuk berkumpul di bukit Shafa. Disana Rasulullah saw menyeru mereka untuk meninggalkan agama nenek moyangnya dan hanya mengesakan Allah swt saja.

baca juga:

Umum

apa isi perjanjian aqabah 2

apa isi perjanjian aqabah 2

KONDISI MASYARAKAT ARAB PRA-ISLAM

Bangsa Arab adalah penduduk asli Jazirah Arab. Letaknya dibagian barat daya Asia dan sebagian besar wilayahnya terdiri dari hamparan padang pasir. Oleh sebab itu iklimnya termasuk salah satu yang paling panas dan paling kering di muka bumi. Bangsa Arab adalah bangsa yang plural dengan berbagai suku, keyakinan (agama), dan kelompok-kelompok sosial yang dimiliki.
Jazirah Arab terbagi menjadi lima bagian yaitu Hijaz, Yaman, Najed, Tihamah dan Yamamah. Kota Mekkah dan Madinah termasuk kedalam bagian Hijaz. Kekuasaan atas tanah Arab juga dikuasai oleh suku Quraisy yang terdiri dari 10 golongan, yaitu Bani Adi, Bani Hushaish, Bani Yaqtah, Bani Taim, Bani Qushai, Bani Thalhah, Bani Abdul Muthalib, Bani Naufal, Bani Harb bin A Syamsin, dan Bani Harb bin Sufwan. Masing-masing dari bani-bani tersebut menduduki kelompok sosial bangsawan dan rakyat biasa. Bani-bani tersebut merupakan organisasi keluarga besar yang hubungan antar anggotanya diikat oleh pertalian darah (nasab). Namun terkadang ada kalanya hubungan seseorang dengan baninya didasarkan pada ikatan perkawinan, suaka politik, atau sumpah setia. Diluar daripada itu, selain dihuni oleh suku Quraisy tanah Arab pun juga dihuni oleh orang-orang Yahudi, Nasrani, Majusi dan yang tidak beragama.
Kondisi geografis sudah barang tentu sangat mempengaruhi pembentukan sifat, perangai, watak, dan tabiat bangsa Arab. Keadaan gurun pasir yang gersang dan keras membuat mereka bersikap kasar, agresif, berwatak keras kepala, bertingkah laku yang keji, serta suka berperang dan merampas.
Bangsa Arab dulunya mengikuti ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim as. Namun lama-kelamaan berganti dengan agama buatan sendiri akibat prasangka-prasangka, angan-angan dan khayalan. Pluralisme yang ada ditengah-tengah bangsa Arab pra-Islam merupakan persoalan yang paling krusial yang menyebabkan hilangnya ajaran tauhid Nabi Ibrahim as di kehidupan mereka. Krisis akhlak melanda masyarakatnya. Akibatnya mereka kehilangan moral sehingga berada dalam zaman yang disebut sebagai zaman jahiliyah atau zaman kebodohan. Perbuatan-perbuatan maksiat dan mungkar merupakan hal yang sangat lazim mereka lakukan pada saat itu, seperti menyembah berhala, mengonsumsi khamr, suka berjudi, mencuri, merampok, berkelahi dan berperang, membunuh bayi perempuan yang baru lahir, memandang rendah martabat perempuan, memberlakukan hukum rimba, mempercayai ramalan, jimat, dan lain-lain.
Pada mulanya berhala masuk ke kota Makkah dibawa oleh seorang raja Makkah pada saat itu yaitu Amru bin Luhay. Ia membawa Hubal dan menempatkannya didalam Kakbah. Kemudian menyeru orang-orang untuk menyekutukan Allah swt. Masyarakat pun mengikutinya karena menganggap hal tersebut sebagai suatu kebaikan. Salah satu berhala mereka yang tertua adalah Manat yang ditempatkan di tepi pantai daerah Qudaid. Semua orang Arab menghormatinya, namun suku Auz dan Khazraj lah yang paling menghormatinya melebihi yang lainnya. Mereka juga menempatkan Latta di Thaif dan Uzza di lembah Nakhlah. Ketiga berhala inilah berhala mereka yang terbesar. Kemudian kemusyrikan semakin menjadi-jadi dan berhala pun semakin banyak disetiap bagian di bumi Hijaz.
Akan tetapi, betapapun negatifnya sifat-sifat yang dimiliki masyarakat Arab pra Islam itu, sebagai manusia mereka tentunya memiliki juga sifat-sifat yang positif, yaitu membela marwah, harga diri, martabat, kehormatan, kemerdekaan dan kebebasan mereka apabila diganggu atau dirampas orang lain, menghormati dan menghargai tamu, memotong tangan pencuri, mengafani mayat sebeum dimakamkan, berpuasa pada hari-hari tertentu (misalnya hari Asyura)[6], berani berkorban untuk membela sesuatu yang mereka yakini benar serta menjunjung tinggi prinsip-prinsip persamaan dan demokrasi.

Sumber: https://belantaraindonesia.org/

 

Umum

jelaskan apa yang dimaksud dengan masyumi

jelaskan apa yang dimaksud dengan masyumi

Masjkur memiliki kepribadian yang baik. Sejak kecil ia sudah diajarkan kedua orang tuanya untuk hidup apa adanya dan bertanggung jawab sebagai seorang laki-laki. Bahkan pada saat orang tuanya sudah meninggal, Masjkur diberikan tanggung jawab yang besar, yaitu mengasuh, membesarkan dan menikahkan adik-adiknya. Tanggung jawab itu ia emban sendiri. Baginya, tanggung jawab kedua orang tuanya dulu adalah tanggung jawabnya sekarang untuk merawat adik-adiknya.
Masjkur adalah orang yang senang membantu satu sama lain, ramah terhadap orang disekitarnya. Pada saat ia dimasukkan ke pesantren oleh ayahnya, ia dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan dan teman-temannya yang baru. Hingga tidak heran jika ia dapat beradaptasi dengan baik walaupun ia sudah berpindah-pindah pesantren. Selain mendapatkan pengajaran yang baik dari kedua orang tuanya, Masjkur juga memiliki sikap yang baik karena mendapatkan didikan dari pesantren. Walaupun setiap pesantren memiliki cara masing-masing untuk mendidik para santrinya, Masjkur tetap bisa mengikuti apapun peraturan yang ada di pondok pesantren. Seperti ayahnya dulu, Masjkur juga termasuk anak yang rajin, cerdas dan tekun serta suka menolong sesama temannya. Bahkan pada saat ia menjadi seorang santri, ia memiliki banyak teman dan sering kali melakukan diskusi mengenai kehidupan mereka. Umumnya, para santri dating dari kalangan keluarga yang menderita akibat penjajahan Belanda.

3. Peran K.H Masjkur dalam Barisan Sabilillah

Salah satu tokoh Nahdhatul Ulama yang layak disematkan gelar pahlawan adalah K.H Masjkur. K.H Masjkur pernah menjadi Mentri Agama RI yang ikut berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dari tangan para penjajah. Perjuangan ulama yang lahir di Singosari Malang tahun 1900 M / 1315 H ini telah dirintis sejak usia muda di bidang Pendidikan, dengan mendirikan pesantren Misbahul Wathan. Tetapi, sebelum mendirikan pesantren dan terjun langsung ke masyarakat, Masjkur muda telah mempersiapkan diri dengan menuntut ilmu dari beberapa pesantren dengan berbagai konsentrasi keilmuwan, antara lain Pesantren Kresek di Batu, Pesantren Bungkuk Malang, Pesantren Sono Bundaran Sidoarjo dan Pesantren Siwalan Sidoarjo.
Setelah itu, Masjkur ke pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Masjkur menimba ilmu hadits dan tafsir dari Kiai Hasyim Asy’ari. Selain itu, Masjkur juga pernah berguru kepada Syaikhona Khalil Bangkalan Madura. Jadi, lengkap sudah bekal awal Masjkur untuk menjadi calon ulama dan pemimpin masyarakat. Selain itu, Masjkur juga sempat menjadi santri di Pesantren Jamsaren Surakarta dibawah asuhan K.H Idris, seorang Kiai keturunan pasukan Pangeran Diponegoro. Di pesantren ini, ia bertemu dengan teman-temannya yang kemudia menjadi ulama dan pemimpin umat di daerahnya masing-masing.


Sumber: https://robinschone.com/

 

Umum

Al-Mu’tazz

Para Khalifah yang memerintah Dinasti Abbasiyyah Periode Kedua

Periode kedua Dinasti Abbasiyyah merupakan periode kemunduran Dinasti abbasiyyah. Hal itu terjadi dikarenakan Khalifah yang memimpin lemah dan hidup bermewah-mewahan, luasnya wilayah kekuasaan Abbasiyyah yang harus dikendalikan sementara komunikasi sangat lambat, ketergantungan yang berlebih terhadap tentara militer yang terdiri dari orang-orang Turki, dan kesulitan keuangan dikarenakan gaji tentara sangat tinggi.

Adapun khalifah-khalifah pada periode ini diantaranya yaitu :

1. Al-Mutawakkil (232 H/847 M – 247 H/861 M)
Al Mutawakkil adalah putra dari khalifah Al-Mu’tashim yang menjabat sebagai Khalifah pada tahun 232 H/847 M setelah menggantikan saudaranya Al-Watsiq. Al Mutawakkil memerintah selama 14 tahun 9 bulan.
Sejak masa pemerintahan al-Mutawakkil telah ada usaha-usaha menjauhi kekuasaan orang-orang Turki. Ia juga menentang faham mu’tazilah, ia membebaskan orang-orang ahlussunnah yang dipenjarakan pada peristiwa mihnah. Para tawanan perang pun baru dapat ditebus jika telah memberi kesaksian bahwa Alquran bukanlah makhluk Allah. Ia mendekati para petani dan pedagan, memperbaiki kanal, menunda pembayaran pajak tanaman sampai buahnya matang, akan tetapi kekuasaan khlaifah belum begitu kuat sehingga ia kembali didominasi oleh oragn-orang turki. Revolusi revolusi yang terjadi pada era ini adalah revolusi Babak al-Kharmi, revolusi al-Maziar, revolusi Zang, dan revolusi Arab. Sementara itu, kondisi ekonomi yang awalnya sangat melimpah dan kaya mulai mengalami penyusutan karena banyaknya pengeluaran, khususnya keharusan memberi gaji atau upah bagi tentara turki.[4]
Usaha perbaikan ekonomi telah dimulai oleh khalifah pertama dari periode ini, ia menangguhkan pembayaran pajak tanaman hingga tanaman tersebut matang. Akan tetapi, sebelum kebijakan ini menjadi sebuah tradisi atau kebijakan, khalifah al-Mutawakkil telah dibunuh. Dengan demikian, keadaan ekonomi-politik kembali seperti sebelumnya bahkan menjadi lebih parah.
2. Al-Muntashir
Al-Muntashir ialah khalifah Abbasiyah di Baghdad dari 861 hingga 862M. Al-Muntashir naik secara mulus ke tahta kekhalifahan pada 861 dengan dukungan faksi Turki setelah pembunuhan ayahandanya oleh seorang perwira Turki. Berlawan dengan pendirian ayahnya Khalifah Al Mutawakkil yang lebih memihak sunni, Al-Muntashir atas saran dari wazir Ahmad ibn Khashib mengeluarkan dekrit yang mengizinkan para pengikut sekte Syi’ah untuk melakukanziarah kembali kepada tempat-tempat yang terpandang suci oleh sekta syiah sehinggaAl-muntashir sangat di puji-puji oleh golongan syiah.
Al-Muntashir meninggal pada tahun 248 H/862 M menjelang hari raya Idul Adha di usia 26 tahun. Masa pemerintahannya hanya berlangsung selama enam bulan. Masih belum pasti penyebab kematiannya namun ada yang mengatakan penyebabnya adalah karena diracun.[5]
3. Al-Musta’in
Al-Musta’in naik menjabat khalifah dalam usia 27 tahun pada tahun248 H/862 M menggantikan Khalifah Al-Muntashir atas penunjukan dari bangsa Turki. Di masa pemerintahannya banyak terjadi kerusuhan dan pembebasan diridari kekuasaan-kekuasaan setempat. Terjadi pula kudeta terhadap Al-Muntashir hingga akhirnya Al-Muntashir diturunkan dari jabatannya dan diangkatlah Al-Mu’tazz sebagai khalifah. kemudian ia pun dikirim ke kota Wasith dan disana ia pun dibunuh orang. Masa pemerintahannya berlangsung hanya tiga tahun dan berakhir pada tahun 252 H/ 866 M. [6]
4. Al-Mu’tazz
Al-Mu’tazz mulai menjabat sebagai khalifah pada tahun 252 H/ 866 M dan berusia 20 tahun pada saat itu. ia langsung dari kegelapan relung penjara naik memegang tambuk kekuasaan. Saudaranya Al-Muayyad yang sama-sama keluar dari penjara kemudian diangkatnya menjadi Panglima Besar kerajaan. Al-Muayyad sangat dihormati dan dimuliakan oleh penduduk ibukota Baghdad. Hal ini menilbulkan kecemburuan khalifah Al-Mu’tazz. Menjelang pengunjung tahun 252 H/866 M khalifah Al-Mu’tazz memerintahkan untuk menangkap adiknya tersebut. akhirnya Al-Muayyad di tangkap dan dipenjarakan sampai meninggal.
Pada masa pemerintahannya terjadi berbagai kerusuhan diantaranya yaitu kerusuhan yang dilakukan oleh golongan khawarij. Golongan khawarij tersebut melakukan pemborantakan di wilayah Mosul, Irak Utara dibawah pimpinan Musamir Al-Khariji. Kerusuhan ini terjadi selama enam tahun lamanya dengan kemenangan yang silih berganti hingga akhirnya Musamir Al-Khariji tewas dalam pertempuran pada tahun 258 H/ 872 M dan sisa-sisa pengikutnya porak poranda. Pada masa ini pula lahir dua buah dinasti baru yaitu dinasti shaffariah dalam wilayah Iran dan dinasti thuluniah di Mesir. Al –Mu’tazz meninggal pada usia 24 tahun karena siksaan yang sangat kejam yang dilakukan kaum pemberontak dari tentara ibu kota Samarra yang menyerbu ke dalam istana secara langsung.
5. Al-Muhtadi
Al-Muhtadi adalah putra dari Khalifah Al-Watsiq. ia diangkat menjadi khalifah menggantikan Al-Mu’tazz pada usia 37 tahun. Ia bukanlah seorang militer akan tetapi seorang ulama yang menyerahkan kehidupannya untuk kepentingan agama dan sikap hidupnya taat dan warak.[7]
Pada masa awal pemerintahannya, Al-Muhtadi mengeluarkan dekrit yang melarang segala jenis hiburan kepelesiran dan seluruh perbuatan munkarat. Ia pun menyingkirkan seluruh penyanyi wanita (al-Mughniat) dari istana khalifah. Pada masanya juga muncul gerakan Zangi di Basrahyang lambat laun semakin meluas.
Akhir dari kekuasaannya yaitu kekalahannya dalam melawan panglima Musa ibn Begha salah satu kaum elite yang dirugikan oleh Al-Muhtadi. Pasukan Al-Muhtadi merasa tidak sebanding dengan pasukan Musa ibn Begha yang ahli dalam strategi perang. Namun Al-Muhtadi tetapmemaksakan melawan hingga maka terjadilah kudeta. Al-Muhtadi berusaha melarikan dirinamun berhasil tertangkap dan di bunuh. Al-Muhtadi memerintah hanya selama 11 bulan. Ia meninggal pada usia 38 tahun pada tahun 256 H/870 M.


Baca juga:

  1. Pilihan Khalifah Al-Mu’tashim terhadap unsur Turki
  2. Kemajuan yang dialami Dinasti Abbasiyah
  3. Mendekor Simpel Rumah Hunian
  4. Rumah Singgah Terkini