Moto situs Anda bisa diletakkan di sini

Moto situs Anda bisa diletakkan di sini

pendidikan

Hakikat Belajar Tuntas (Mastery Learning)

Hakikat Belajar Tuntas (Mastery Learning)

Hakikat Belajar Tuntas (Mastery Learning)

Hakikat Belajar Tuntas (Mastery Learning)

Pembelajaran tuntas yang dimaksudkan dalam

pelaksanaanKurikulum 2013 adalah pola pembelajaran yang menggunakan prinsip ketuntasan secara individual. Dalam hal pemberian kebebasan belajar, serta untuk mengurangi kegagalan siswa dalam belajar, strategi belajar tuntas menganut pendekatan individual, dalam arti meskipun kegiatan belajar ditujukan kepada sekelompok peserta didik (kelas), tetapi mengakui dan melayani perbedaan-perbedaan perorangan peserta didik sedemikiah rupa, sehingga dengan penerapan pembelajaran tuntas memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing siswa secara optimal. Dasar pemikiran dari belajar tuntas dengan pendekatan individual ialah adanya pengakuan terhadap perbedaan individual masing-masing siswa.

      Untuk merealisasikan pengakuan dan pelayanan terhadap perbedaan individu, maka pembelajaran harus menggunakan strategi pembelajaran yang berasaskan maju sberkelanjutan(continuous progress). Untuk itu pendekatan sistem, yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam teknologi pembelajaran, harus benar-benar dapat diimplementasikan. Salah satu caranya adalah, standar kompetensi dan kompetensi dasar harus dinyatakan secara jelas, dan pembelajaran dipecah-pecah ke dalam satuan-satuan (cremental units), di mana siswa belajar selangkah demi selangkah dan baru boleh beranjak mempelajari kompetensi dasar berikutnya setelah menguasai suatu/sejumlah kompetensi dasar yang ditetapkan menurut kriteria tertentu. Dalam pola ini ditentukan bahwa seorang siswa yang mempelajari unit satuan pembelajaran tertentu dapat berpindah ke unit satuan pembelajaran berikutnya jika peserta didik  yang bersangkutan misalnya telah menguasai sekurang-kurangnya 75 % dari kompetensi dasar yang  ditetapkan.

      Sedangkan pembelajaran konvensional dalam kaitan ini diartikan sebagai pembelajaran dalam konteks klasikal yang sudah terbiasa dilakukan, sifatnya berpusat pada guru, sehingga pelaksanaannya kurang memperhatikan keseluruhan situasi belajar (non belajar tuntas).

      Dengan memperhatikan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa perbedaan antara pembelajaran tuntas dengan pembelajaran konvensional adalah bahwa pembelajaran tuntas dilakukan melalui azas-azas ketuntasan belajar, sedangkan pembelajaran konvensional pada umumnya tidak/kurang  memperhatikan ketuntasan belajar khususnya ketuntasan peserta didik secara individual.

      Strategi belajar tuntas dapat dibedakan dari pengajaran non belajar tuntas terutama dalam hal-hal berikut ini:

  1. Pelaksanaan tes secara teratur untuk memperoleh balikan terhadap bahan yang diajarkan sebagai alat untuk mendiagnosa kemajuan peserta didik
  2. Peserta didik baru dapat melanjutkan pada pelajaran berikutnya setelah ia benar-benar menguasai materi tersebut sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
  3. Pemberian bimbingan dan penyuluhan terhadap peserta didik yang belum mencapai taraf penguasaan penuh, melalui pengajaran korektif, pengajaran tutorial sesuai dengan waktu yang dibutuhkan masing-masing peserta didik.

Sumber: https://blog.fe-saburai.ac.id/seva-mobil-bekas/

Categories:
pendidikan
You Might Also Like