Hukum Mujara’ah atau Mukhabarohdan Musyaqoh

Hukum Mujara'ah atau Mukhabarohdan Musyaqoh

Hukum Mujara’ah atau Mukhabarohdan Musyaqoh

Hukum Mujara'ah atau Mukhabarohdan Musyaqoh
Hukum Mujara’ah atau Mukhabarohdan Musyaqoh

1. Hukum mujara’ah atau mukhabaroh. Hukum mujara’ah dibagi menjadi dua :

I. Hukum mujara’ah shahih menurut hanafiyah

* Segala keperluan untuk memelihara tanaman diserahkan kepada penggarap
* Pembiayaan atas tanaman dibagi antara penggarap dan pemilik tanah
* Hasil yang diperoleh dibagikan berdasarkan kesepakatan waktu aqad
* Menyiram atau menjaga tanaman, jika disyaratkan akan dilakukan bersama, hal itu harus dipenuhi. Akan tetapi, jika tidah ada kesepakatan, penggaraplah yang paling bertanggungjawab menyiram atau menjaga tanaman
* Dibolehkan menambah penghasilan dari kesepakatan waktu yang telah ditetapkan
* Jika salah seorang yang aqad meninggal sebelum diketahui hasilnya, penggarap tidak mendapatkan apa-apa sebab ketetapan aqad didasarkan pada waktu

II. Hukum mujara’ah fashid (rusak) menurut hanafiyah

* Penggarap tidak berkewajiban mengelola
* Hasil yang keluar merupakan pemilik benih
* Jika dari pemilik tanah, penggarap berhak mendapatkan upah dari pekerjaannya

Hukum musyaqah

i. Hukum musyaqah shahih

* Menurut ulama hanafiyah
v Segala pekerjaan yang berkenaan dengan pemeliharaan pohon disershksn kepada penggarap, sedangkan biaya yang diperlukan dalam pemeliharaan dibagi dua
v Hasil dari musyaqah dibagi berdasarkan kesepakatan
v Jika pohon tidak menghasilkan sesuatu, keduanya tidak mendapatkan apa-apa
v Aqad adalah lazim dari kedua belah pihak. Dengan demikian, pihak yang beraqad tidak dapat membatalkan aqad tanpa izin salah satunyav Pemilk boleh memaksa penggarap untuk bekerja, kecuali ada udzur
v Boleh menambah hasil dari ketetapan yang telah disepakati
v Penggarap tidak memberikan musyaqah kepada penggarap lain, kecuali jika diizinkan oleh pemilik. Namun demikian penggarap awal tidak mendapat apa-apa dari hasil, sedangkan penggarap kedua berhak mendapat upah sesuai dengan pekerjaannya

ii. Hukum dan dampak musyaqah fashid

Musyaqah fashid adalah aqad yang tidak memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan syara’. Beberapa keadaan yang dapat dikategorikan musyaqah fashidah menurut ulama hanafiyah antara lain
* Mensyaratkan hasil musyaqah bagi salah seorang dari yang aqad
* Mensyaratkan salah satu bagian tertentu bagi yang aqad
* Mensyaratkan pemilik untuk ikut dalam penggarapan
* Mensyaratkan pemetikan dan kelebihan kepada penggarap, sebab penggarap hnya berkewajiban memelihara tanaman sebelum dipetik hasilnya. Dengan demikian, pemeriksaan dan hal-hal tambahan merupakan kewajiban dua orang yang aqad
* Mensyaratkan penjagaan kepada penggarap setelah pembagian
* Mensyaratkan kepada penggarap untuk terus bekerja setelah habis waktu aqad
* Bersepakat sampai batas waktu menurut kebiasaan
* Musyaqah digarap oleh dua orang sehingga penggarap membagi lagi dengan penggarap lainnya.
Dampak musyaqah fashid menurut ulama hanafiyah* Pemilik tidak boleh memaksa penggarap untuk bekarja
* Semua hasil adalah hak pemilik kebun
* Jika musyaqah rusak, penggarap berhak mendapat upah

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/kumpulan-kultum-ramadhan/