Literasi Digital pada Anak Harus Dimulai dari Keluarga

Literasi Digital pada Anak Harus Dimulai dari Keluarga

Literasi Digital pada Anak Harus Dimulai dari Keluarga

Literasi Digital pada Anak Harus Dimulai dari Keluarga
Literasi Digital pada Anak Harus Dimulai dari Keluarga

Literasi digital di Indonesia masih minim. Perkembangan teknologi di media digital

ini membuat kesenjangan antar generasi. Orang tua tak jarang sulit berinteraksi sosial dengan anak, karena anak lebih cenderung dekat dan lebih mahir di media digital. Bahkan data di tahun 2013, hampir 20 persen anak di Indonesia sudah berkenalan dengan internet dan media digital sejak kecil.

Baca Juga: Bentengi Diri dari Post Truth dengan Literasi

Peneliti Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

(LIPI) Aulia Hadi mengatakan, regulasi yang mengatur pembatasan usia mengakses media digital di Indonesia belum ada. Berbeda dengan negara maju. Bahkan, ada orang tua yang memperkenalkan dunia digital terlalu dini. Kadang ponsel pintar menjadi baby sitting bagi balita.

“Lalu siapa yang salah? Orang tua juga punya kesalahan di sini, karena biar anak anteng, diberi ponsel. Orang tua juga perlu memahami pola pengasuhan digital,” kata Aulia dalam Diskusi Publik Peran Keluarga sebagai Pondasi Masa Depan Keluarga di Jakarta, Rabu (15/5/2019).

Menurut Aulia, perkembangan internet dan media digital sangat penting tetapi punya dampak positif

dan negatif. Namun tentu, keluarga Indonesia tidak bisa menutup mata tentang hal ini. Perkembangan media digital harus dijadikan peluang mendatangkan manfaat positif.

Baca Juga: News Aggregator, Tren Baru Masyarakat Digital?

Anak-anak usia 0-3 tahun memang lebih menyukai audio visual. Di sinilah orang tua harus tetap memberikan kedekatan emosional dengan anak saat bersentuhan dengan dunia digital.

Saat menonton, mendengar cerita dongeng di media digital, orang tua perlu mendampingi anak balita sebagai bentuk relasi dan interaksi sosial.

Sebab jika tidak anak akan kecanduan gawai dan tentu akan berdampak negatif terhadap tumbuh kembang anak karena menjauh dari interaksi sosial di dunia nyata.

Sementara itu ketika anak beranjak dewasa, kerap menjadi beban terberat dalam memberikan literasi digital. Kesenjangan digital orang tua dan anak sangat jelas di sini. Oleh karena itu, orang tua tetap bisa memberi ruang ke anak, ikut memposisikan diri sebagai teman anak. Orang tua juga perlu memiliki keterampilan digital. “Namun peran sebagai orang tua tetap dibutuhkan untuk membimbing anak,” ucap Aulia.

Aulia menjelaskan literasi digital membutuhkan keterampilan digital dan kecakapan emosional. Dalam keterampilan digital perlu ada keterampilan menggunakan media seperti mengoperasikan tombol-tombol di media digital dan memahami isi media. Selain itu, yang juga penting adalah kecakapan emosional yang disesuaikan dengan tumbuh kembang anak dan karakteristik medianya.

“Keluarga adalah ruang yang memberi literasi digital sejak awal dan beri berkontribusi indentitas. Anak perlu dibekali bagaimana menyampaikan opini di media digital sehingga tidak berujung perundungan (bullying) dan ujaran kebencian (hate speech),” tandas Aulia.

 

Sumber :

http://slamet.blog.st3telkom.ac.id/legenda-kota-makassar/