Moto situs Anda bisa diletakkan di sini

Moto situs Anda bisa diletakkan di sini

Agama

Masalah Khilafiyah

Masalah Khilafiyah

Masalah Khilafiyah

Masalah Khilafiyah

1. Kejadian Pada Massa Rasulullah Saw

Sebuah hadist masyur sudah banyak diketahui oleh umum umat islam.
اِخْتِلاَفُ أُمَّتِىْ رَحْمَةٌ
Artinya:
“Perbedaan pendapat umatku, hendaknya menjadi rahmat.” (HR. Baihaqy, Hulaimy dan Nashir Naqdas)
Apa yang terjadi pada masa Nabi Muhammad saw, sungguh merupakan contoh yang baik, seperti tersebut didalam hadist dibawah ini:
عَنْ أَبِىْ سَعِيْدٍ اَلْخُدْرِىِّ قَالَ: خَرَجَ رَجُلآَنِ فِىْ سَفَرٍ فَحَضَرَتِ الصَّلاَةُ وَلَيْسَ مَعَهْمَا مَاءٌ فَتَيَمَّمَا صَعِيْدًا طَيِّبَا فَصَلَّيَا. ثُمَّ وَجَدَا الْمَاءَ فِى الْوَقْتِ فَأَعَادَ أَحَدُ هُمَا الصَّلاَةَ ,َالْوُضُوْءَ وَلَمْ يُعِدِ الْاَخَرُ. ثُمَّ اَتَيَا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَ كَرَا ذَلِكَ لَهُ. فَقَالَ لِلَّذِى لَمْ يُعِدْ أَصَبْتَ السُّنَّةَ وَأَجْزَاَتْكَ صَلَا تُكَ. وَقَالَ لِلْاَ خَرِ لَكَ الأَجْرُ مَرَّ تَيْنِ. (راودأبوراوروالنسانى)
Artinya:
“Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata: keluar dua orang pada suatu perjalanan sedang waktu shalat telah tiba, kedua orang itu tidak menemukan air untuk berwudhu, maka bertayamum kedua orang itu dengan debu yang bersih, lalu mereka shalat. Setelah mereka shalat mereka dapati air ditempat itu juga, maka seorang dari mereka mengulangi shalatnya dengan wudhu, sedang yang lain tidak mengulangi. Kemudian mereka berdua menghubungi Rasulullah dan menanyakan persoalan tersebut bagaimana hukumnya. Maka Rasul menjawab kepada yang tidak mengulang: Engkau telah kerjakan menurut sunnah dan cukup buatmu sembahyang dan cukup buatmu shalatmu, dan sabdanya kepada yang lain: Engkau dapat ganjaran dua kali.” (HR. Abu Daud dan Nasa’i)

Segolongan sahabat Nabi sedang didalam perjalanan diantara mereka terdapat Umar dan Muadz. Mereka memerlukan mandi wajib sedang mereka tidak menemukan air untuk mandi. Lalumasing-masing melakukann ijtihadnya. Muadz berijtihad bahwa tanah itu seperti halnya air, dalam fungsinya seperti air sebagai alat bersuci (thaharah). Kemudian ia berguling/melumurkan badannya dengan tanah itu dan terus shalat.

Tetapi ijtihad Umar bersabda, yakni menundakan sembahyang. Ketika persoalan inni diajukan kepada Nabi ternyata keduanya menyalahi dalil.
Nabi memberi contoh melalui al-Qur’an dan Hadist:
فَا مُسَحُوْا بِوُجُوْ هِكُمْ وَاَيْدِ يْكُمْ مِنْهُ. (الماءدة: 25)
Artinya:
“Maka sapulah mukamu dan tapak tanganmu dengan tanah itu.” (QS. Al-Maidah: 25)

إِنَّمَا يَكْفِيْكَ أَنْ تَقُوْلَ بِيَدَيْكَ هَكَذَا ثُمَّ مَسَحَ الشِّمَالَ عَلَى الْيَمِيْنِ وَظَا هِرَ كَفَّيْهِ وَوَجْهَهُ. (روادالبخارىومسلم)
Artinya:
“Hanya saja cukup bagimu demikian, dan Nabi memukulkan kedua tangannya ke tanah dan ditiup dikedua tapak tangannya, kemudian menyapu dengan kedua tangannya akan muka dan kedua tapak tangannya.” (HR. Bukhori Muslim)

Khilafiyah pada zaman Nabi Muhammad saw pada waktu itu memeng sudah ada. Hanya masalahnya khilafiyah pada waktu itu belum meluas, sedang Nabi sendiri masih ada. Jadi apabila menjumpai sesuatu persoalan akan lebih mudah untuk segera dipecahkan. Mudah untuk dinetralisir.

Baca Juga: https://www.pendidik.co.id/nama-bayi-perempuan-islami/

2. Khilafiyah Pada Zaman Khulafaurrasyidin

Setelah Nabi Muhammad saw wafat, maka semua masalah agama dan urusan pemerintah ditangani langsung para sahabat-sahabat besar. Beberapa kejadian penting di dalam masalah khilafiyah antara lain:
a. setelah meninggalnya Rasul banyak orang-orang kaya muslim yang ingkar untuk membayarzakat. Sedang mereka tetap muslim dan mendirikan shalat. Tindakan apakah yang harus dikenakan kepada mereka, sedang masalah ini belum pernah diselesaikan pada zaman Nabi.
b. Ketika menghadapi penulisan atau pembukuan al-Qur’an, semula para sahabat mempunyai pendapat yang berbeda-beda. Sebagian setuju, sebagian menolak.[4]
c. Perbedaan pendapat mengenai bagian dari seorang kakek dari warisan. Dalam masalah ini, Ibnu Abbas berpendapat bahwa kakek menjadi penghalang bagi saudara mayit untuk mendapat warisan. Sementara sahabat lain, seperti Umar, Ali dan Zaid berpendapat bahwa saudara mayit baik sekandung maupun seayah, sama-sama mendapat bagian seperti halnya si kakek.[5]
d. Dalam masalah mandi junub wanita. Dari Ibnu menfatwakan bahwa wanita yang mandi junub harus membuka semua sanggulnya sehingga air dapat merata ke seluruh pori-pori kulit kepala. Waktu fatwa ini sampai ke telinga ‘Aisyah (istri Nabi), beliau memberi reaksi yang nadanya tidak menyetujui pendapat tersebut sambil mengeluarkan pertanyyan. Mengapa Ibnu Umar tidak menfatwakan saja supaya wanita mencukur semua rambut kepala? Beliau mengatakan, beliau pernah mandi bersama dengan Nabi dalam satu bejana sambil berkata:

وَمَا أُرِيْدُ أَنْ أَلإْرَأَغَ عَلَى رَأْسِىْ ثَلاَثَ فَرَاغَاتٍ.
Artinya:
“Aku tidak menambah siraman ke kepalaku waktu mandi junub, hanya tiga kali siraman.”
Dengan demikian hadist tersebut memberi kejelasan bahwa wanita yang mandi junub itu tidak perlu harus membuka semua sanggulnya.

Categories:
Agama
You Might Also Like