Moto situs Anda bisa diletakkan di sini

Moto situs Anda bisa diletakkan di sini

pendidikan

Menjaga Kehormatan Diri dengan Menikah

Menjaga Kehormatan Diri dengan Menikah

Menjaga Kehormatan Diri dengan Menikah

Menjaga Kehormatan Diri dengan Menikah

Menundukkan pandangan merupakan perintah etika pergaulan antara muslim-muslimah untuk menjaga kehormatan dan menghindarkan effek yang tidak dibenarkan oleh ajaran agama diluar hubungan suami isteri atau hubungan kemuhriman. Berbicara seperlunya dan tidak memanjang-manjangkan percakapan dianjurkan oleh para ulama demi menghindari fitnah yang mungkin timbul dalam berkomunikasi diluar hubungan pernikahan. Bahkan wanita dalam syariah etika tidak diperkenankan untuk mengeraskan suaranya dan dalam shalat berjamaah hanya diperbolehkan menepukkan tangannya sewaktu dia mengingatkan iman yang membuat kekeliruan dalam bacaan atau hitungan raka’at shalat tanpa menjaharkan lafadz Subhanallah sebagai layaknya makmum pria. Wanita beriman menjaga kehormatannya dengan mengenakan busana sesuai aturan syari’ah, dan tidak berusaha menampakkan perhiasan yang dikaruniakan Allah kepada mereka sesuai firmanNya dalam surat An Nur ayat 31, yang berbunyi:

“Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: (Hendaklah) mereka menahan pandangan mereka, dan menjaga kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali apa yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutup dadanya dengan kain kerudung mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau kepada anak-anak mereka, atau kepada saudara-saudara mereka, atau kepada anak-anak saudara laki-laki mereka, atau anak-anak saudara perempuan mereka, atau kepada wanita-wanita (sesama) mereka, atau budak-budak yang mereka miliki, atu kepada pelayan-pelayan dari laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti atas aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu semuanya kepadaAllah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung”.

Pernikahan memiliki dampak kecenderungan yang sama bagi usaha mempertahankan kehormatan diri, menghindarkan kemungkinan perbuatan-perbuatan yang dimotivasi oleh bujukan syaitan untuk menindak lanjuti pertemuan pandangan, percakapan ataupun sentuhan yang mengarah pada perbuatan yang dilaknat Allah swt. sebagai dosa besar berupa perzinahan.

“Wahai para pemuda, barang siapa yang telah mampu hendaknya kawin, sebab kawin akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan, kalau belum mampu agar berpuasa, karena puasa akan menjadi perisai baginya”. (Hadits Riwayat Bukhari – Muslim).

“Ada tiga orang yang berhak mendapatkan pertolongan Allah, yaitu orang yang berjuang di jalan Allah, hamba sahaya yang berniat akan menebus dirinya dan orang yang kawin untuk melindungi kehormatannya”. (Riwayat Tirmidzi dari Abu Ayub).

Allah swt. tidak menghendaki hubungan seks diluar pernikahan karena akan mengakibatkan dampak buruk tidak hanya bagi pelakunya saja tapi akan mengakibatkan penderitaan bagi anak yang dilahirkan bahkan menyebabkan tersebarnya penyakit yang sukar disembuhkan serta akibat lain yang menyengsarakan seperti pengguguran kandungan atau aborsi.

“Dan janganlah kamu mendekati zinah, sesungguhnya zinah itu adalah perbuatan yang keji dan jalan yang sangat buruk”.

Demikian besar dosa yang diakibatkan oleh perbuatan ini, sehingga disejajarkan dengan membunuh orang tanpa hak dan menyembah Tuhan lain disamping Allah. Penyesalan yang sungguh-sungguh disertai amal saleh melalui taubatan nashuha akan diterima dengan memperhatikan surat An Nur ayat 1 sampai dengan 10. Dalam kitab suci Al Qur’an surat Al Furqan ayat 68, 69 dan 70, Allah swt. berfirman:

“Dan orang yang tidak menyembah Tuhan lain beserta Allah, dan mereka tidak membunuh seseorang yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, dan mereka tidak berzinah. Dan barangsiapa yang berbuat demikian (niscaya) dia mendapat dosa”.

“(Yaitu) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat, dan dia kekal dalam azab itu (dalam keadaan) terhina”.

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka mereka itulah akan diganti oleh Allah kejahatan-kejahatan mereka dengan kebaikan. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Menjaga kehormatan dalam konteks keluarga berarti masing-masing memelihara kehormatan dirinya, suami menjaga kehormatan isteri dan isteri menjaga kehormatan dan wibawa suaminya. Disamping itu keduanya harus mampu menjaga kehormatan, keharmonisan dan keutuhan keluarga dengan tidak menonjolkan kepentingan dan ego masing-masing serta lebih memperhatikan dan mendahulukan kebutuhan, kepentingan dan perkembangan anak, disini anak diposisikan sebagai point centre. Dalam batas yang wajar hal ini tidak akan berakibat menimbulkan kemanjaan atau ketergantungan tapi justru akan mempercepat proses pertumbuhan kepribadian anak. Secara berimbang pada diri anak akan berkembang tubuh yang sehat, psiko-edukatif, kemampuan adaptasi sosial dan sensitivitas spiritual.

Kurang berfungsinya orang tua (deprivasi parentaldalam pembinaan rumah tangga dapat mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan jiwa anak yang bila terus berlanjut akan menimbulkan gangguan kepribadiannya (personality disorder).

Metode praktis dan terbukti berhasil dalam menciptakan keluarga yang sakinah, keluarga yang kohesif adalah dengan menghidupkan suasana Islami dalam keluarga, dalam beribadah, shalat –berjamaah, puasa berjamaah dengan makan sahur dan berbuka bersama keluarga. Seluruh anggota keluarga dapat diajak untuk mengikuti pengajian dan dzikir serta ceramah bersama-sama, bergabung dalam wisata agama atau bila memungkinkan melaksanakan umrah dan haji sekeluarga serta kebersamaan lain yang bernuansa ibadah atau rekreasi-religius.

Sumber : https://furnituremebeljepara.co.id/

Categories:
pendidikan
You Might Also Like