Moto situs Anda bisa diletakkan di sini

Moto situs Anda bisa diletakkan di sini

Agama

Pembagian dan Hukum Ijarah & Gugurnya Upah

Pembagian dan Hukum Ijarah & Gugurnya Upah

Pembagian dan Hukum Ijarah & Gugurnya Upah

Pembagian dan Hukum Ijarah & Gugurnya Upah
Pembagian dan Hukum Ijarah & Gugurnya Upah

Pembagian dan Hukum Ijarah

Ijarah terbagi menjadi dua yaitu ijarah terhadap benda atau sewa-menyewa, dan ijarah atas pekerjaan atau upah-mengupah.

1. Hukum Sewa-Menyewa

Diboleh ijarah atas barang mubah, seperti rumah, kamar, dan lain-lain, tetapi dilarang ijarah terhadap benda-benda yang diharamkan.

a) Ketetapan Hukum Akad dalam Ijarah

Menurut ulama hanafiah, ketetpan akad ijarah adalah kemanfaatan yang bersifat mubah. Menurut ulama malikiyah, hukum ijarah sesuai dengan keberadaan manfaat. Ulama hanabilah dan syafiiyah berpendapat bahwa hukum ijarah tetap pada keadaannya, dan hukum tersebut menjadikan masa sewa, seperti benda yang tampak.

b) Cara memanfaatkan barang sewaan

1. Sewa ruamah
Jika seseorang menyewa ruamah, diboleh kan untuk memanfaatkannya sesuai kemauannya, baik dimanfaatakan lagi atau disewakan kepada orang lain.
2. Sewa tanah
Sewa tanah diharuskan untuk menjelaskan tanaman apa yang akan ditanam atau bangunan apa yang akan didirakan diatasnya.
3. Sewa kendaraan
Dalam menyewa kendaraan, baik hewan atau kendaraan lainny harus dijelaskan salah satu diantara dua hal, yaitu waktu dan tempat.

2. Hukum Upah-Mengupah

Upah mengupah atau ijarah ‘ala al-a’mal, yakni jual beli jasa, biasanya berlaku dalam beberapa hal seperti menjahitkan pakaian, membangun rumah, dan lain-lain. Ijarah ‘ala al-a’mal terbagi 2, yaitu:
a. Ijarah Khusus yaitu ijarah yang dilakukan oleh seorang pekerja. Hukumnya orang yang bekerja tidak boleh bekerja selain dengan orang yang telah memberinya upah.
b. Ijarah Musyitarik yaitu ijarah dilakukan secara bersama-sama atau melalui kerjasama. Hukumnya dibolehkan bekerjasama dengan orang lain.

Gugurnya Upah

Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan upah bagi ajir (tanggung-jawab yang disewa), apabila barang yang ditangannya rusak.
Menurut ulama Syafi’iyah, jika ajir bekerja ditempat yang dimiliki oleh penyewa, ia tetapa memperoleh upah. Sebaliknya, apabila barang berada ditangannya ia tidak mendapat upah. Pendapat tersebut senada dengan pendapat ulama Hanabilah.
Ulama Hanafiyah juga hampir senada dengan pendapat diaats. Hanya saja diuraikan lagi, yaitu:
a) Jika benda ada ditangan ajir
1. Jika ada bekas pekerjaan, ajir berhak mendapat upah sesuai bekas pekerjaan tersebut.
2. Jika tidak ada bekas pekerjaanya, ajir berhak mendapatkan upah atas pekerjaanya sampai akhir.
b) Jika benda berada ditangan penyewa
Pekerja berhak mendapat upah setelah selesai bekerja.

Sumber: dutadakwah.org

Categories:
Agama
You Might Also Like