Moto situs Anda bisa diletakkan di sini

Moto situs Anda bisa diletakkan di sini

Agama

Pengertian Ikhtilaf & Sejarahnya

Pengertian Ikhtilaf & Sejarahnya

Pengertian Ikhtilaf & Sejarahnya

Pengertian Ikhtilaf & Sejarahnya

Pengertian Ikhtilaf

Ikhtilaf menurut bahasa adalah perbedaan paham (pendapat). Ikhtilaf berasal dari bahasa Arab yang asal katanya adalah khalafa-yakhlifu-khilafan (خلف – يخلف – خلافا). Manusia yang sedang berdebat (berbeda pendapat) sering kali berkobar api amarah didadanya. Mereka saling berbantah dan debat kusir yang biasa disebut perang mulut. Terhadap perkara ini Allah menegaskan dalam firman-Nya:
فَا خْتَلَفَ الْأَ حْزَا بُ مِنْ بَيْنِهِمْ, فَوَيْلٌ لِلَّذِ يْنَ كَفَرُوْا مِنْ مَشْهَدِ يَوْمٍ عَظِيْمٍ (مريم :37)
Artinya:

“Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) diantara mereka, maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar”. (Q.S. Maryam: 37)
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّا سَ أُ مَةً وَا حِدَةً وَلاَ يَزَ الُوْ نَ مُخْتَلَفِيْنَ (هود: 118)
Artinya:
“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat”. (Q.S. Hud: 118)
إِنَّكُمْ لَفِيْ قَوْلٍ مُهْتَلِفٍ (الذاريات: 8 )
Artinya:
“Sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat”. (Q.S. Al-Zariyat: 8)
إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِيْ بَيْنَهُمْ يَوْ مَ الْقِيَا مَةِ فِيْمَا كَا نُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ (يو نس: 93)

Artinya:
“Sesungguhnya tuhan kamu akan memutuskan antara mereka dihari kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan itu”. (Q.S. Yunus: 93)
Pernyataan Allah dalam beberapa ayat diatas sering terjadi pada diri manusia, karena ikhtilaf memang bisa menimbulkan perbedaan total, baik dalam ucapan, pendapat, sikap maupun pendirian.
Ikhtilaf menurut istilah adalah berlainan pendapat antara dua orang atau beberapa orang terhadap suatu objek (masalah) tertentu, baik berlainan itu dalam bentuk “tidak sama” ataupun “bertenntangan secara diametral”.
Jadi yang dimaksud ikhtilaf adalah tidak samanya atu bertentangannya penilainan (ketentuan) hukum terhadap suatu objek hukum.
Sedangkan yang dimaksud ikhtilaf dalam pembahasan ini adalah perbedaan pendapat diantara ahli hukum islam (fuqaha’) dalam menetapkan sebagian hukum islam yang bersifat furu’iyyah, bukan pada masalah hukum islam yang bersifat ushuliyah (pokok-pokok hukum islam), disebabkan perbedaan pemahaman atau perbedaan metode dalam menetapkan hukum suatu masalh dan lain-lain. Misalnya, perbedaan pendapat fuqoha’ tentang hukum wudhu seorang lelaki yang menyentuh perempuan dan hukum membaca surah al-fatihah bagi ma’mum dalam shalat dan lain-lain.

Sejarah Khilafiyah

Timbulnya perbedaan pendapat dalam masalah hukum syariah dimulai seiring dengan umur ijtihad itu sendiri. Praktik ijtihad pada saat Rasulullah hidup masih sangat sedikit, kecuali dalam kondisi-kondisi tertentu karena ketika itu kaum muslimin masih berada dalam fase turunya wahyu.
Kebutuhan kaum muslimin akan ijtihad mulai tampak setelah wafat Rasulullah dan berpencarnya para sahabat ke berbagai penjuru daerah kaum muslimin.
Jika kita cermati secara mendalam, semua perbedaan pendapat yang terjadi selama ini terkait dengan dua hal berikut:
1. Keberadaan dalil.
2. Pemahaman terhadap dalil
Ada hikmah dari diturunkannya syariah yaitu banyaknya dalil dalam al-Qur’an dan sunnah yang mengandung banyak arti (dapat dipahami dengan beragam makna). Ini karena al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab dan kemungkinan banyaknya makna dalam sebuah lafadz bahasa Arab adalah hal yang lazim. Hal ini juga merupakan salah satu keiistimewaannya.

Baca Juga: https://www.pendidik.co.id/sholat-rawatib/

Hikmah Allah Swt juga terdapat dalam penciptaan dimana manusia diciptakan secara beragam. Allah Swt menjadikan akal dan kemampuan manusia berbeda-beda. Orang berakal pasti meyakini bahwa kedua contoh diatas menimbulkan aksioma, yakni adanya perbedaan dalam pendapat dan hukum. Mari kita lihat dengan perbandingan matematis sebagai berikut:

Perbedaan dalam Pendapat

1. Nash dalil yang mengandung kemungkinan makna lebih dari satu ditambah dengan pemahaman yang beragam, maka akan menghasilkan pendapat yang berbeda.

2. Nash dalil yang bersifat qath’i (menunjukan hanya satu makna) ditambah dengan pemahaman ynag sama, maka akan menghasilkan pendapat yang sama.

Orang-orang yang mengajak kepada penyatuan madzhab dan pemikiran tersebut tidak memahami hikmah Allah dalam penciptaan manusia, bahwa jika Dia mau, Dia akan menjadikan manusia menjadi satu dalam pemikiran dan pemahaman. Jika itu yang dikehendaki, maka Allah akan menurunkan sebuah kitab suci yang menerangkan seluruh persoalan manusia secara terperinci tanpa ada kemungkinan untuk dipahami dengan makna berbeda oleh manusia sampai hari kiamat. Seandainya Allah menghendaki penyatuan pemikiran dan pemahaman manusia terhadap hukum-hukum agamanya, niscaya Dia akan mengubah sifat nash-nash dalil itu dan menyatukan pemahaman manusia. Namun, Allah Swt berkehendak lain.

Diantara hal yang menguatkan hikmah Allah Swt dalam memberikan pilihan ini adalah bahwa kebanyakan dalil syar’i, dilalahnya bersifat zhanni (satu lafadz mempunyai lebih dari satu makna). Dengandipilihnya redaksi yang sedemikian itu, maka seakan-akan Allah Swt menghendaki timbulnya banyak pemahaman terhadap makna yang dikandung oleh lafadz tersebut. Dengan begitu, Allah memberi lapangan bagi akal untuk menelaah, mencermati, memikirkan dan menggali hukum dari firman-Nya dan perkataann Rasul-Nya.

Ketika maslahat ijtihad lebih besar dari mafsadat yang timbul dari perbedaan pendapat, maka sangatlah wajar jika nash-nash dalil dalam masalah itu menggunakan ungkapan-ungkapan yang bersifat zhanni, yang mempunyai kemungkinan untuk dipahami lebih dari satu makna

Categories:
Agama
You Might Also Like