Moto situs Anda bisa diletakkan di sini

Moto situs Anda bisa diletakkan di sini

Perkebunan

Pengertian Menimbun Bahan Pokok

Pengertian Menimbun Bahan Pokok

Pengertian Menimbun Bahan Pokok

Pengertian Menimbun Bahan Pokok
Menimbun bahan Pokok dalam ajaran islam lebih dikenal dengan nama Ihtikar.  Adapun beberapa definisi yang menurut ulama fikih dari kata  الإ حتكار(ihtikar) diantaranya:
1.    Muhammad bin Ali Syaukani mendefinisikan ihtikar sebagai “penimbunan / penaha-nan barang dagangan dari peredarannya.
2.    Muhammad bin Muhammad Ghazali mendefinisikan ihtikar sebagai “penyimpanan barang dagangan oleh penjual makanan untuk menunggu melonjaknya harga penjualannya dilakukan ketika harga naik.”
3.    Ulama mazhab Maliki menyatakan bahea ihtikar yaitu penyimpanan barang oleh produsen baik makanan, pakaian dan segala jenis barang yang akan dapat merusak pasar.
4.    Sayyid Sabiq di dalam kitab “fikih sunnah” bahwasanya ia mendefinisikan ihtikar sebagai berikut:“Ihtikar adalah menyembunyikan sesuatu (barang) kemudian supaya barang tersebut sedikit di kalangan manusia maka harganya menjadi tinggi dan menimpa mereka karena kemudlaratan itu.” (Fiqgh Sunnah, Juz 3 : 117)
Dari beberapa defenisi diatas, dapat disimpulkan bahwa Ihtikar/menimbun adalah membeli dan menyimpan sesuatu barang dalam jumlah yang banyak, dengan maksud untuk menjualnya dengan harga tinggi kepada penduduk/masyarakat disaat mereka membutuhkannya.
Biasanya barang yang ditimbun itu adalah barang yang melimpah dan harganya murah. Ketika barang sudah langka dan harganya tinggi, maka orang yang menimbun barang tersebut mengeluarkannya dengan harga tinggi, sehingga ia memperoleh keuntungan yang berlipat. Meskipun harganya tinggi, penduduk terpaksa membelinya karena mereka sangat membutuhkan barang pokok tersebut.

B.    Hukum Menimbun Kebutuhan Pokok Menurut  Islam

Para Ahli Fiqh, sebagaimana dikutif oleh Drs. Sudirman M, MA berpendapat bahwa penimbunan barang diharamkan bila terdapat syarat sebagai berikut:
1.    Barang yang ditimbun melebihi kebutuhannya, atau dapat dijadikan persediaan untuk setahun penuh.
2.    Barang yang ditimbunnya dalam usaha menunggu saat naiknya harga, sehingga barang tersebut dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi, dan para konsumen sangat membutuhkannya.
3.    Penimbunan itu dilakukan pada saat manusia sangat membutuhkannya, mislanya makanan, pakaian, dan lain-lain. Dengan demikian. Penimbunan barang-barang yang tidak dibutuhkan oleh konsumen, hal itu tidak dianggap sebagai penimbunan, karena tidak mengakibatkan kesulitan pada manusia.
Menimbun kebutuhan pokok juga di haramkan karena dampak dari perbuatan ini sangat merugikan masyarakat, keseimbangan pemerataan akan kacau karena para tengkulak (penimbun) terus menyedot sebagian besar kekayaan rakyat tanpa mengenal belas kasihan. Sebagai akibatnya maka harga barang-barang dipasaran mengalami kenaikan drastis, dan keadaan pasaran menjadi guncang karena tidak adanya stabilitas harga barang-barang. Melihat situasi yang labil ini, rakyat pun berlomba-lomba malakukan pembelian yang lebih dari kebutuhannya, sekalipun harga barang sangat mahal karena takut habis. Yang menjadi korban utama adalah kaum fakir miskin. Mereka tak dapat meraih kebutuhan-kebutuhan pokoknya disebabkan kemampuan daya beli mereka yang terbatas. Hal ini tak akan bisa terjadi, seandainya tidak ada para tengkulak yang memborong semua kebutuhan-kebutuhan pokok, dan mencegahnya dari peredaran.  Oleh karena itu Rasulullah SAW sangat mengecam hal ini, sebagaimana sabda-sabda beliau sebagai berikut:

sumber :

https://solopellico3p.com/beli-mobil-bekas/

Categories:
Perkebunan
You Might Also Like