Moto situs Anda bisa diletakkan di sini

Moto situs Anda bisa diletakkan di sini

Perternakan

Peristiwa Hijrah ke Yatsrib

Peristiwa Hijrah ke Yatsrib

Peristiwa Hijrah ke Yatsrib

Dengan meninggalnya abu thalib dan khadijahrosulullah menghadapi berbagai macam bahaya dan cobaan yang didatangkan oleh kaum kafir quraisy dan pemimpin pemimpin kota lainnya. Diantara peristiwa yang sangat menyakitkan adalah peristiwa yang dialami oleh Nabi Saw. di Thaif.

Setelah peristiwa itu nabi menjuruskan dakwahnya kepada para jemaah jemaah haji dari seluruh penjuru arab. Diperkenalkannya dirinya serta diperkenalkan pula seruan islam dan pokok pokok agama baru itu kepada mereka.[3]

Ketika berada di Aqabah, nabi bertemu dengan sekelompok orang dari kabilah kharaj yang berasal dari madinah. Beliau mengajak mereka untuk menyembah Allah, menjelaskan tentang islam kepada mereka serta membacakan Al-Quran. Kabilah kharaj bertetangga dengan yahudi dimadinah. Mereka telah mendengar dari kaum yahudi bahwa akan datangnya nabi yang sudah dekat dengan masa kalian. Sebagian dari mereka kemudian berkata kepada sebagian yang lain bahwa “wahai kaum ! kalian mengetahui, demi Allah bahwa orang ini adalah nabi yang telah dikabarkan kaum yahudi kepada kalian. Maka jangan sampai kalian didahului oleh mereka, sambut dia, berimanlah kepadanya.” Maka pada musim haji berikutnya datanglah 12 orang dari yatsrib menemui rosululloh di aqabah. Mereka membaiat kepada rasululloh untuk bertauhid, menahan diri dari mencuri, berzina dan membunuh anak-anak mereka, serta taat dalam kebaikan (Bai’atul Aqabah Pertama). Nabi mengutus Mush’ab bin ‘umair untuk ikut ke yatsrib bersama rombongan guna menyebarkan dakwah islam disana.

Pada tahun berikutnya, Mush’ab kembali ke makkah bersama dengan 75 anshar melaksanakan ibadah Haji serta bertemu Rasulullah di lereng Aqabah. Maka dalam pertemuan ini Rasulullah meminta baiat dari kaum anshar untuk melindungi nya sebagaimana mereka melindungi istri dan anak anaknya.

Ketika Rasulullah telah membaiat kaum anshar untuk membela islam dan melindungi beliau serta pengikutnya. Maka Nabi saw. Langsung menginstruksikan agar para sahabatnya untuk segera berhijrah ke Yastrib, sejak saat itu kota Mekah menjadi kosong dari populasi muslim. Yang tersisa hanya Nabi saw., Abu Bakar, dan Ali bin Abi Thalib. Sebenarnya Abu Bakar pun sudah berniat untuk mengikuti jejak orang-orang muslim yang telah berhijrah sebelumnya, Namun ketika ia meminta izin kepada Nabi saw. akan maksud itu, Nabi menjawab dengan cara sungguh-sungguh, mengingat situasi yang semakin kritis. Nabi mengatakan kepada Abu Bakar “jangan tergesah-gesah, mudah-mudahan Allah swt. Memberimu seorang teman”. Pernyataan tersebut membuat Abu Bakar sangat gembira, karena dia berharap mudah-mudahan teman yang dimaksud Nabi saw. adalah dirinya sendiri. Ungkapan Nabi saw. dan harapan Abu Bakar tersebut menunjukkan bahwa keputusan hijrahnya Nabi saw. ke Madinah sangat rahasia, sehingga sahabat terdekatnyapun nyaris tidak mengetahuinya. Bahkan sebagian besar dari pengikutnya memperkirakan bahwa Nabi saw. akan tetap di Mekah melanjutkan perjuangannya, setelah memerintahkan pengikutnya untuk berhijrah.
Sementara itu berita-berita yang ilato dari yatsrib semakin menghawatirkan Quraisy, sebab kaum muhajirin semua telah berkumpul di Yatsrib dan penduduk negeri tersebut menyambutnya dengan penuh kemuliaan. Kenyataan ini membuat orang-orang Quraisy menjadi curiga jangan-jangan Muhammad juga akan keluar dari Mekah bergabung dengan sahabat-sahabatnya di sana. Dengan ilator ini, mereka pun mengadakan pertemuan di Dar al-Nadwa dan memutuskan Muhammad harus dibunuh beramai-ramai. Pertemuan tersebut diabadikan oleh Allah dalam Q.S. al-Anfal/8: 30 “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”.

baca juga :

Categories:
Perternakan
You Might Also Like