Rukun dan syarat musyaqah

Rukun dan syarat musyaqah

Rukun dan syarat musyaqah

Rukun dan syarat musyaqah
Rukun dan syarat musyaqah

Ulama hanafiyah  berpendapat bahwa rukun musyaqah adalah ijab dan qabul. Seperti pada mujara’ah. Adapun yang bekerja adalah penggarap saja, tidak seperti pada mujara’ah. Ulama malikiyah berpendapat tidak ijab qabul tetapi harus dengan lafad. Menurut ulama hanabilah qabul dalam musyaqah, seperti dalam mujara’ah tidak memerlukan lafad, cukup dengan menggarapnya. Sedangkan ulama syafi’iyah mensyaratkan dalam qabul dengan lafad ucapan dan ketentuannya didasarkan pada kebiasaan umum.
Jumhur ulama menetapkan bahwa rukun musyaqah ada lima yaitu :

* Dua orang yang aqad (al-aqidani)

Disyaratkan harus baligh dan berakal.

* Obyek musyaqah

Menurut ulama hanafiyah adalah pohon-pohon yang berbuah seperti kurma. Akan tetapi, menurut sebagian ulama hanafiyah lainnya dibolehlan musyaqah atas pohon yang tidak berbuah sebab sama-sama membutuhkan pengurusan dan siraman.
Ulama malikiyah berpendapat bahwa objek musyaqah adalah tumbuh-tumbuhan, seperti kacang, pohon yang berbuah dan memiliki akar yang tetap ditanah seperti anggur, kurma yang berbuah, dll.
Ulama hanabilah berpendapat bahwa musyaqah dimaksudkan pada pohon-pohon berbuah yang dapat dimakan.
Ulama syafi’iyah dalam madzhab baru berpendapat bahwa musyaqah dilakukan pada kurma dan anggur saja. Kurma didasarkan pada perbuatan rosulullah. Terdapat orang khabair, sedangkan anggur hamper sama hukumnya dengan kurma bila ditinjau dari segi wajib zakatnya tetapi, madzhab qadim membolehkan semua jenis pepohonan.

* Buah

Disyaratkan menentukan buah ketika aqad untuk kedua pihak.

* Pekerjaan

Disyaratkan penggarap harus bekerja sendiri. Jika disyaratkan bahwa pemilik harus bekerja atau dikerjakan secara bersama-sama menjadi aqad tidak sah.
Ulama mensyaratkan penggarap harus mengetahui batas waktu, yaitu kapan maksimal berbuah dan kapan minimal berbuah. Ulama hanafiyah tidak memberikan batas waktu baik dalam mujara’ah maupun musyaqah. Sebab rosulullah tidak memberikan batasan ketika muamalah dengan orang khabair.

* Shighat

Menurut ulama syafi’iyah tidak dibolehkan menggunakan kata ijarah atau sewaan dalampun aqad musyaqah sebab berlainan aqad. Adapun ulama hanabilah membolehkannya sebab yang terpenting adalah maksudnya.
Bagi orang yang mampu berbicara, qabul harus diucapkan agar menjadi lazim, seperti pada ijarah. Menurut ulama hanabilah, sebagaimana pada mujara’ah, tidak disyaratkan qabul dengan ucapan melainkan cukup dengan mengerjakannya.

Syarat-syarat musyaqah

Sebenarnya tidak berbeda dengan persyaratan yang ada dalam mujara’ah. Hanya saja dalam musyaqah tidak disyaratkan untuk menjelaskan jenis benih, pemilik benih, kelayakan kebun, ketetapan waktu,
Beberapa syarat yang ada dalam mujara’ah dan dapat diterapkan dalam musyaqah adalah:
* Ahli dalam aqad
* Menjelaskan bagian penggarap
* Membebaskan pemilik dari pohon
* Hasil dari pohon dibagi antara dua orang yang melangsungkan aqad
* Sampai batas akhir, yakni menyeluruh sampai akhir.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/