Syarat mujara’ah atau mukhobaroh

Syarat mujara’ah atau mukhobaroh

Syarat mujara’ah atau mukhobaroh

Syarat mujara’ah atau mukhobaroh
Syarat mujara’ah atau mukhobaroh

1) Menurut abu yusuf dan Muhammad

Mujara’ah memiliki beberapa syarat yang berkaitan dengan aqid (orang yang melangsungkan aqad), tanaman, tanah yang ditanami, sesuatu yang keluar dari tanah, tempat aqad, alat bercocok tanam, dan waktu bercocok tanam.
a) Syarat aqid (orang yang melangsungkan aqad).
* Mumayyiz, tetapi tidak disyaratkan baligh.
* Imam abu hanafiyahmensyaratkan bukan orang murtad, tetapi ulama hanafiyah, tetapi ulama hanafiyah tidak mensyaratkannya.
b) Syarat tanaman.
Diantara para para ulama terjadi perbedaan pendapat tetapi kebanyakan menganggap lebih baik jika diserahkan kepada pekerja.
c) Syarat dengan garapan.
* Memungkinkan untuk digarap, yakni apabila ditanami tanah tersebut akan menghasilkan.
* Jelas.
* Ada penyerahan tanah.
d) Syarat-syarat tanaman yang dihasilkan.
* Jelas ketika aqad.
* Diharuskan atas kerjasama dua orang yang aqad.
* Ditetapkan ukuran diantara keduanya, seperti sepertiga, setengah,dll.
* Hasil dari tanaman harus menyeluruh diantara dua orang yang akan melangsungkan aqad. Tidak dibolehkan mensyaratkan bagi salah satu orang yang melangsungkan aqad hanya mendapatkan sekedar mengganti biji.
e) Tujuan aqad.
Aqad dalam mujara’ah harus didasarkan pada tujuan syara’ yaitu untuk memanfaatkan pekerja atau memanfaatkan tanah.
f) Syarat alat bercocok tanam.
Dibolehkan menggunakan alat tradisional atau modern dengan maksud sebagai konsekuensi atas aqad. Jika hanya bermaksud menggunakan alat, dan tidak dikaitkan dengan aqad, mujara’ah dipandang rusak.
g) Syarat mujara’ah
Dalam mujara’ah diharuskan menetapkan waktu. Jika waktu tidak ditetapkan, mujara’ah dipandang tidak sah.

2) Ulama malikiyah

Syarat-syarat mujara’ah menurut ulama malikiyah :
* Kedua orang yang melangsungkan aqad harus menyerahkan benih.
* Hasil yang diperoleh harus disamakan antara pemilik tanah dan penggarap.
* Benih harus berasal dari kedua orang yang melangsungkan aqad.

3) Ulama safi’iyah

Tidak mensyaratkan persamaan hasil yang diperoleh oleh kedua aqid dalam mujara’ah yang mengikuti atau berkaitan dengan musyaqah. Mereka berpendapat bahwa mujara’ah ada;ah pengelolaan tanah atas apa yang keluar dari bumi, sedangkan benihnya berasal dari pemilik tanah.

4) Ulama hanabilah

Tidak mensyaratkan persamaan antara penghasilan dua orang yang aqad. Namun demikian mereka mensyaratkan lainnya :
* Benih berasal dari pemilik, tetapi diriwayatkan bahwa imam ahmad membolehkan benih berasal dari penggarap.
* Kedua orang melaksanakan aqad harus menjelaskan bagian masing-masing.
* Mengetahui dengan jelas jenis benih.

Baca Juga: